Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selamat Datang di Blog Info Konservasi Papua

Cari Informasi/Berita/Tulisan/Artikel di Blog IKP

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org

IKLAN PROMO : VIRTUOSO ENTERTAIN " NUMBAY BAND ", info selengkapnya di www.ykpmpapua.org
Info Foto : 1) Virtuoso Entertain bersama Numbay Band saat melakukan penampilan bersama Artis Nasional Titi DJ. 2) Saat penampilan bersama Artis Diva Indonesia, Ruth Sahanaya. 3) Mengiringi artis Papua, Edo Kondologit dan Frans Sisir pada acara "Selamat Tinggal 2012, Selamat Datang 2013" kerjasama dengan Pemda Provinsi Papua di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Dok 2 Jayapura. 4) Melakukan perform band dengan Pianis Jazz Indonesia. 5) Personil Numbay Band melakukan penampilan di Taman Imbi, Kota Jayapura. Vitrtuoso Entertain menawarkan produk penyewaan alat musik, audio sound system dan Band Profesional kepada seluruh personal, pengusaha, instansi pemerintah,perusahaan swasta, toko, mal, kalangan akademisi, sekolah, para penggemar musik dan siapa saja yang khususnya berada di Kota Jayapura dan sekitarnya, serta umumnya di Tanah Papua. Vitrtuoso Entertain juga menawarkan bentuk kerjasama seperti mengisi Acara Hari Ulang Tahun baik pribadi maupun instansi, Acara Wisuda, Acara tertentu dari pihak sponsor, Mengiringi Artis dari tingkat Nasional sampai Lokal, Acara Kampanye dan Pilkada, serta Acara-Acara lainnya yang membutuhkan penampilan live, berbeda, profesional, tidak membosankan dan tentunya.... pasti hasilnya memuaskan........ INFO SELENGKAPNYA DI www.ykpmpapua.org

31 July 2007

Merauke : Akan Bangun 3 Titik Pelabuhan Ekspor ((Ketika Program Mewujudkan Merauke Sebagai Lumbung Pangan Nasional Dipaparkan (Bagian-4/Habis)

(www.cenderawasihpos.com, Selasa 31 Juli 2007)
Dalam rangka mendukung Merauke sebagai lumbung pangan nasional, berbagai infrastruktur akan dibangun seperti Pelabuhan Ekspor dalam mempercepat dan memudahkan pendistibusian keluar daerah.Laporan Yulius Sulo, Merauke Tiga titik pelabuhan eksper yang akan dibangun tersebut, satunya akan berada di Kimaam, satunya lagi di Kali Bian dan terakhir di sekitar Kuprik Merauke. ‘’ Tiga titik pelabuhan ekspor yang rencananya akanKami bangun ini untuk mempermudah pendistribusian keluar daerah dari kantong-kantong produsen yang ada. Yang di Kimaam tujuannya agar tidak perlu lagi ke Merauke dengan biaya tinggi. Begitu pula yang ada di Okaba tapi cukup sampai di Kali Bian,’’ kata Kepala Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Merauke Ir Omah Laduani Ladamay, M.Si.

Selain 3 titik pelabuhan yang akan dibangun tersebut, juga akan dibangun terminal agropolitan. Terminal ini akan berpusat di sekitar Distrik Semangga. ‘’Terminal agropolitan ini untuk menyuplai ke daerah lainnya,’’ terangnya. Selain konsep tersebut, konsep lainnya, lanjut Ladamay, yakni pembangunan stok lumbung pangan di setiap kampung. Stok lumbung pangam kampung ini akan menampung hasil panen dari warga sehingga warga di setiap kampung tidak kekurangan pangan karena adanya stok tersebut.

‘’Target kami, 5 tahun kedepan mulai dari Kimam bagian Barat Merauke sampai Ulilin bagian ujung Timur Merauke setiap kampung sudah harus memiliki lumbung pangan dan stok pangan,’’ jelasnya. Bagi setiap kampung yang tidak memiliki sawah dan hanya berupa lahan kering, menurut Mantan Kepala Bappeda Kabupaten Mimika ini, akan diupayakan dengan padi gogo. ‘’Karena hampir seluruh masyarakat kita suka makan nasi. Mungkin ini juga dampak dari bantuan Raskin, sehingga terjadi pergeseran pola makan,’’ jelasnya.

Pembangunan lumbung pangan itu, tidak hanya dibangun di setiap kampung, tapi juga akan dibangun di setiap distrik, untuk menampung setiap kelebihan di kampung. ‘’Lumbung yang ada di distrik inilah yang akan mensuplay stok ke pelabuhan eksport tersebut,’’ terangnya. Soal harga, menurut Ladamay, diharapkan adanya kestabilan harga. ‘’Kebijakan kedepan, pihaknya tidak mau terjadi lagi fluktuasi harga beras di Merauke. Satu konsep ketahanan pangan bahwa harga harus stabil. Kalau misalnya disepakati dengan harga Rp 4.500 perkilonya maka harganya itu yang terus berlaku. Tidak boleh naik meski di saat masa paceklik. “ Makanya kami juga akan membangun gudang-gudang penyimpanan gabah. Dari gudang penyimpanan gabah ini akan kami giling setiap bulan untuk suplay pasar Merauke dan pasar lainnya ke daerah lain,’’ jelasnya. Selain hal tersebut, Ladamay mengungkapkan, masih adanya pemahanan yang keliru selama ini jika sector pertanian tidak menjanjikan adalah pemahaman yang salah. ‘’Sektor pertanian adalah sektor riil, sektor bisnis dan produktif. Selama ini memang ada pemahaman yang keliru soal pertanian ini. Di Negara-negara maju, justru petaninya makmur dan kaya karena sector pertanian sudah dianggap sebagai sektor bisnis,’’ jelasnya.

Untuk itu, untuk merubah pemahaman tersebut, sektor pertanian akan ditangani secara integrasi mulai dari pembenihan sampai pada paskah panen dan marketing. ‘’Nantinya petani tidak tangani mulai dari A-Z seperti yang terjadi selama ini. Tapi nantinya petani kita mungkin hanya tahu tanam, pelihara dan panen. Sedangkan selanjutnya bukan lagi petani yang urus,” terangnya. Pihaknya akan buat suatu manajemen yang disebut corporation Parming, dimana selain petani yang terlibat juga pihak lain dalam menangani. Selain akan mengurangi beban kerja dari petani juga akan memberikan keuntungan bagi petani. ***

Merauke : PT Dwi Karya Reksa Abadi Datangkan 100 Ton Ikan Campuran, Untuk Memenuhi Kebutuhan Masyarakat Merauke

(www.cenderawasihpos.com, Selasa 31 Juli 2007)
MERAUKE- Tingginya harga ikan di pasar Merauke saat ini akibat stok yang berkurang tampaknya akan segera berakhir. Pasalnya, KM Marind Lestari dari PT Dwi Karya Reksa Abadi telah mendatangkan 100 ton ikan campuran dan sedang berlabuh di Pelabuhan Kelapa Lima Merauke. Meski dalam tahap pembongkaran, namun ikan sebanyak itu akan segera dilempar kepasaran. ‘’Saat ini sebanyak 100 ton ikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Merauke telah tiba dan sedanmg menunggu pembongkaran,’’ kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Merauke Ngatno Handoyo, B.SC, ketika ditemui di ruang kerjanya, kemarin. Menurut Handoyo, ikan yang didatangkan tersebut guna memenuhi kebutuhan masyarakat Merauke setelah sebelumnya, terjadi kekurangan stok di pasaran yang menyebabkan harganya melambung. ‘’Disatu sisi kalau harganya naik berarti akan menguntungkan nelayan kita. Tapi disisi lain jika harganya tidak terjangkau oleh masyarakat sementara ikan sangat dibutuhkan dalam pemenuhan gizi masyarakat. Oleh karena itu, pada waktu itu kami membuat surat permintaan ke Bupati dan beliau telah memberikan respon. Kebetulan ada perusahaan yang sanggup memenuhi 100 ton perbulannya,’’ terangnya.

Soal harga, menurut Handoyo, diserahkan kemekanisme pasar. ‘’Tapi permintaan kami kepada perusahaan ini untuk tidak terlalu mengambil untung yang besar tapi yang wajar, dan berjanji akan menempatinya,’’ jelasnya. Pengiriman ikan dari Kimaam tersebut, merupakan yang kedua kalinya setelah 2 bulan sebelumnya telah didatangkan 100 ton ikan campuran. Untuk diketahui, sejak kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Thailand tidak diperpanjang lagi dan perusahaan-perusahaan penangkap ikan asal Thailand di Laut Arafura ditarik ke negaranya, stok ikan laut di pasar Merauke mulai berkurang yang menyebabkan harga ikan menjadi tinggi. (ulo)

30 July 2007

Jayapura : 92 Ekor Ayam Warga Koya Kena Flu Burung, Hari ini 600-an Unggas Akan Dimusnahkan

JAYAPURA-Setelah agak lama tidak terdengar adanya kematian unggas secara mendadak, kali ini informasi itu kembali terdengar, dimana selama seminggu lalu, 87 ekor unggas mati secara mendadak di Kelurahan Koya Barat, Distrik Muara Tami. Bahkan dari hasil pemeriksaan sementara tim instansi teknis terkait, menyebutkan 92 ayam warga yang mati mendadak tersebut dinyatakan positif terserang Virus Avian Influensa (H5NI) atau flu burung.

Kepala Kelurahan Koya Barat, Suprianto, S.STP, mengatakan, ayam yang mati mendadak tersebut, diantaranya, 87 ekor ayam mati Ahad pagi (22/7), dan 5 lainnya menyusul sore hari. Kata dia, kematian puluhan unggas tersebut memang sengaja tidak segera diekpose cepat kepada warga, karena ada kekhawatiran bisa menimbulkan kepanikan warga. Apalagi saat itu hampir bersamaan dengan kegiatan turun kampung (Turkam) Gubernur Barnabas Suebu SH ke Kampung Skow Mabo, Kampung Skow Sae, Kampung Skow Yambe, Distrik Muara Tami, pada 25-26/7 lalu. "Pertimbangan kami jangan sampai masyarakat panik sebab belum paham benar tentang virus flu burung," ungkapnya kepada wartawan, di sela-sela sosialisasi kasus flu burung bagi para pemilik unggas di Kelurahan Koya Barat, Distrik Muara Tami, Sabtu, (28/7).Dikatakan, awalnya beberapa unggas mati mendadak, kemudian warganya melaporkan kejadian itu bagi dirinya dan langsung ditindaklanjuti dilaporkan ke Dinas Pertanian dan Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Dinas Peternakan Provinsi Papua, Wakil Walikota Jayapura dan Walikota Jayapura.Selanjutnya, tim yang terdiri dari instansi teknis Pemkot Jayapura dan Pemprov. Papua datang memastikan penyebab kematian ke 87 unggas bersangkutan. Hasilnya menyatakan, unggas-unggas tersebut positif virus Avian Influensa (H5N1) atau flu burung itu.

"Unggas-unggas yang mati itu milik 10 kepala keluarga yang berada di RW: 1, RT:2, RT:3 dan RT:7 serta RW:2/RT:1," imbuhnya.Dengan mengetahui hasilnya positif tersebut, akhirnya dilakukan pemusnahan unggas yang mati tersebut, dan dilakukan penyemprotan desinfektan virtox ke seluruh Kelurahan Koya Barat.Hal ini guna memutuskan mata rantai penyebaran virus kepada unggas-unggas lainnya, dan menular ke warga Koya Barat. Ia menyatakan, untuk data sementara 92 unggas bersangkutan sudah dinyatakan positif virus itu, namun pihaknya belum tahu apakah unggas-unggas lainnya yang masih hidup, juga terinfeksi virus itu atau tidak. Guna memastikannya, maka telah dilakukan pengambilan sampel kemudian diperiksa lebih lanjut.Untuk tindakan lebih lanjut, yaitu, membuka wawasan warganya tentang masalah virus itu, Sabtu (28/7) lalu, pihaknya mengundang Dinas Peternakan Provinsi Papua untuk menjelaskan apa virus menyebar pada unggas dan manusia.Diterangkannya, perlu dilaksanakannya sosialisasi itu, agar warganya dapat memahami dengan benar bagaimana gejala-gejala virus itu pada hewan peliharaannya, dan bagaimana upaya memberantas penyebaran virus itu.

"Kami berterima kasih kepada pihak provinsi yang telah memberikan sosialisasi tentang virus itu bagi warga kami. Dan juga atas dukungannya yang siap memfasilitas memberikan obat-obatan bagi warga kami, sehingga dapat lakukan upaya-upaya memberantas penyebaran virus itu," tandasnya.Sementara itu, Kasubdin Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan Provinsi Papua, DRH. Indarto S, M.MMT, mengatakan, penanganan terhadap penyebaran virus itu bila dilakukan secara serius, maka dalam jangka waktu 10-15 tahun virus itu sudah dapat dimusnahkan.Untuk Papua secara keseluruhan, termasuk Provinsi Papua Barat, risiko menjadi epidemi penyebaran virus itu sangat memungkinkan, dimana Tanah Papua banyak terdapat unggas-unggas liar.Selain itu, cara pemeliharaan unggas oleh masyarakat belum optimal, dimana umumnya masyarakat Papua memelihara unggas dengan tidak dikandangkan, alias unggas-unggasnya dibiarkan liar di lingkungan masyarakat.
Hal yang berikut ialah umumnya masyarakat Papua, lebih banyak terserang penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), yang mana hal itu sangat memungkinkan bila yang bersangkutan terinfeksi virus itu, maka turut menyebarkannya kepada orang lain, dan mempercepat kematiannya.

"Pemeliharaan hewan yang tidak sehat, itu mempercepat virus itu menyebar ke manusia, bila ternyata unggas itu positif flu burung. Gejala unggas itu terkena virus itu adalah jengkernya kehitam-hitaman, kakinya kemerah-merahan, bila bertelur, telurnya bentuk tidak normal, telurnya mudah pecah, serta berbagai gejala klinis lainnya," katanya.Lanjut dia, sifat-sifat virus itu lainnya, antara lain, mudah mengalami mutasi genetik, cepat mengalami replikasi (Berkembang dalam tubuh manusia/hewan), mampu bertahan di dalam air selama 4 hari diatas 22 derajat celcius, lebih-lebih mudah menyebar pada kotoran hewan.Ia menerangkan, virus itu pada dasarnya bisa diberantas dengan cepat, namun virus itu juga mudah untuk berkembang biak. Juga bisa diberantas/dibunuh dengan formolin sebanyak 2,5 persen, Lodim (Yodium), Bayklin. Kemudian untuk telur dapat dimasak di atas suhu 64 derajat celcius selama 4,5 menit, sementara daging dimasak di atas suhu 80 derajat celcius selama 1 menit."Jadi cara memberantas virus dengan cara-cara itu, namun pertanyaan, bila kontak langsung dengan unggas sebelum pada saat unggas hidup dan hendak dipotong untuk dimasak. Virus itu juga tertular melalui perantara fasilitas berupa, rak telur, pakan, peralatan ternak, alat transportasi, dan sebagainya," imbuhnya.Ditambahkannya, untuk mencegah penyebaran virus itu, maka hari ini (Senin,red) pihaknya akan melakukan pemusnahan 601 unggas, terdiri dari 477 ayam, 76 bebek, dan 48 entok.(nls).

Manca Negara : Amerika : Piara Kura-Kura Tidak Aman Bagi Anak

(www.antara.co.id)
Washington (ANTARA News) - Kura-kura agaknya bukan hewan peliharaan yang aman buat anak-anak, setelah seorang bayi usia empat minggu meninggal tahun ini, demikian dikatakan oleh Pusat Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular AS (CDC) Jumat.CDC menyampaikan kekhawatirannya bahwa hewan kura-kura yang diperjualbelikan sebagai hewan peliharaan, meningkat akhir-akhir ini walaupun adanya larangan untuk menjual kura-kura dengan diamater kulit punggungnya melebihi 4 inci (10 cm).Bayi kura-kura merupakan hewan populer untuk dijadikan hewan peliharaan di Amerika Serikat sampai Badan pengawas Obat dan Makanan AS, FDA mengeluarkan larangan karena hewan tersebut meimbulkan banyak kasus berbagai penyakit serius bagi anak-anak.

"Salmonella yang terdapat pada kotoran kura-kura dapat berpindah kepada manusia melalui kontak fisik baik secara langsung atau pun tak langsung. Tak ada metoda yang dapat menjamin bahwa seekor kura-kura bebas dari salmonella dan bakteri tersebut dapat dihilangkan dari kotoran hewan tersebut.Umumnya hampir semua kura-kura mengandung bakteri salmonella," demikiam dikatakan oleh CDC dalam laporan kematian bayi empat minggu .Penyakit yang diakibatkan salmonella tetap merupakan masalah kesehatan di AS, dengan perkiraan 1,4 juta nonthypoidal salmonella (salmonella bukan penyebab penyakit typhoid) menjadi penyebab infeksi pada manusia setiap tahunnya yang mengharuskan 15 ribu orang harus dirawat di rumah sakit dan 400 diantaranya berakhir dengan kematian.

Bayi yang terkena salmonella tersebut dibawa ke ruang UGD sebuah rumah sakit di dengan gejala demam tinggi dan kejang, meninggal pada 1 Maret lalu walaupun sudah menerima pengobatan anti-biotika.Tes terhadap bakteri yang diambil dari si bayi cocok dengan yang ditemukan pada kura-kura peliharaan yang merupakan hadiah pemberian seorang kenalan keluarga si bayi.Hewan yang mengandung salmonella tidak sakit namun ia membawa microba tersebut.CDC telah menelusuri 15 orang lainnya yag juga terinfeksi dengan rangkaian bakteri yang sama pada tahun 2006 dan 2007 dan menenumkan 80 persen diantara mereka melakukan kontak fisik langsung maupun tak langsung dengan seekor kura-kura sepekan sebelum jatuh sakit."Kasus-kasus tersebut memperlihatkan bahwa kura-kura kecil tetap menjadi sumber infeksi salmonella bagi manusia," kata CDC.

"Walaupun pemberian pengetahuan kepada masyarakat yang bertujuan untuk mencegah infeksi yang disebabkan salmonella sudah sangat memadai, agaknya larangan untuk memelihara kura-kura adalah cara yang paling efektif untuk mencegah kasus infeksi akibat salmonella."Apabila bakteri itu menyebar dalam darah dapat menyebabkan sejumlah penyakit yang amat berbahaya yang mengancam keselamatan nyawa balita, lansia dan mereka yang tak memiliki sistem kekebalan yaitu orang yang hidup dengan AIDs atau pasien kanker, demikian Reuters.(*)

Sarmi : Tinggal 3000 KK Lagi, Dari Target Pemberdayaan Kakao 8000 KK, Sudah Tercapai 5000-an KK

(www.cenderawasihpos.com, Senin 30 Juli 2007)
SARMI-Saat ini Bupati Sarmi, Drs Eduard Fonataba MM, sudah sedikit beranapas lega dengan programnya ''GERBANG SARMIKU'', khususnya untuk gerakan menanam pohon coklat (Kakao). Sebab baru sekitar dua tahun, dari target 8000 KK, sedikitnya sudah ada 5000-an KK yang sudah menanam coklat. Sekadar mengingatkan, Kabupaten Sarmi merupakan salah satu daerah otonom di Provinsi Papua yang memiliki potensi sumberdaya alam yang melimpah.

Sebagai daerah yang baru terbentuk menjadi kabupaten difinitif dua tahun silam, maka perlu dilakukan berbagai kiat dan terobosan untum membangun potensi yang tersedia menjadi berbagai bahan produk ekonomi unggulan, baik dalam bentuk produk setengah jadi mapun produk jadi, sehingga dapat dijadikan sumber pendapatan daerah dan masyarakat.Dengan melihat potensi sumberdaya alm yang dimilki oleh Kabupaten Sarmi, baik yang ada di daratan, pesisi pantau dan laut, maka Pemkab sarmi menetapkan strategi dan kebijakan untuk ,engolah dan mendayagunakan potensi yang ada bagi peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.Dan seperti yang telah kita ketahui bersama, strategi dan kebijakan yang ditempuh Pemkab Sarmi adalah dikemas dalam suatu bentuk ''GERBANG SARMIKU'' yakni gerakan pengembangan pemberdayaan masyarakat Kabupaten Sarmi.

''GERBANG SARMIKU'', tidak hanya sekadar menjadi program yang semata-mata hnya didorong oleh Pemkab Sarmi, tetapi program ini akan menjadi bagian dari aktivitas masyarakt Kabupaten Sarmi secara mandiri dalam mengenbangkan berbagai kegiatan ekonomi dan social untuk peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan masayarakat.Berdasarkan evaluasi dan pengamatan terhadap potensi sumberdaya unggulan di daerah Kabupaten sarnmi yang selama ini telah dikenal dan dikelola oleh masyarakat, maka yang menjadi focus dalam GERBANG SARMIKU adalah pengembangan coklat (Kakao), pembuatan minyak kelapa, pembuatan ikan asin.Satu hal yang menggembirakan, ternyata program pengembangan coklat di sarmi mendekati berhasail. Program gerakan menanam coklat per KK minimal 500 pohon, mulai menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Sebab dari target 8000 (Delapan Ribu) KK (Kepala Keluarga), laporan yang telah masuk saat ini sedikitnya sudah mencapai angka 5000-an KK.

''Ini perkembangan yang menggembirakan. Berjalan kurang lebih dua tahun, target kita hampir terpenuhi. Tinggal 3000 KK lagi yang harus terus kita motivasi untuk membuka lahan dan menam bibit pohon kakao,''kata Bupati Sarmi Drs Eduard Fonataba MM.Yang lebih menggembirakan, penaman kakao ini sudah hampir merata di setiap distrik, seperti di Distrik Sarmi, Distrik pantai Timur dan distrik-distrik yang lain.''Sesuai kebijakan Pemerintah Kabupaten sarmi setiap rumah tangga mendapatkan bibit kakao yang cukup sekaligus pembinaan, sehingga kedepan sarmi menjadi daerah penghasil kakao. Dengan demikian, secara bertahap kesejahteraan penduduk akan terus meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan penduduk,''jelas bupati.Karena itu sejak awal, Pemkab Sarmi melalui dinas terkait, selalu menseponsori atau mengkampanyekan menanam kakao tersebut. Dalam menyeponsori masyarakat tersebut, Pemkab memberikan bantuan berupa bibit kakao, bantuan berupa peralatan pertanian dan mesin senso untuk membuka lahannya.(jko)

Merauke : Merauke Punya 1,2 Juta Ha Lahan Pertanian Potensial (Ketika Program Mewujudkan Merauke Sebagai Lumbung Pangan Nasional Dipaparkan (Bagian-3)

(www.cenderawasihpos.com, Senin 30 Juli 2007)
Untuk mewujudkan Merauke sebagai lumbung pangan nasional, berbagai strategi dan program mulai dirancang dan dipersiapkan untuk mengarap lahan pertanian potensial seluas 1,2 juta ha.Laporan Yulius Sulo, Merauke. Untuk mengarap lahan potensial untuk persawahan seluas 1,2 juta ha itu, menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Merauke, Ir Ode Laduani Ladamay, M.Si, pihaknya mulai merancang dan mempersiapkan program yang terintegrasi dari seluruh rumpun pertanian.

‘’Selama ini jalan sendiri-sendiri, belum pernah terintegrasi. Nah, lahan seluas 1,2 juta ha itu akan kita coba rancang untuk membangun suatu jaringan pertanian dalam arti luas yang benar-benar terintegrasi,’’ kata Laduani. Menurutnya, dari 1,2 ha tersebut, akan dibagi dalam claster 6 claster besar dengan luasan setiap claster 2.000 ha. Dari 2.000 tersebut akan dibagi lagi dalam 4 claster dengan luasan masing-masing 5.000 ha, sehingga total yang ada sebanyak 240 claster untuk 1,2 juta ha tersebut. Dari setiap claster kecil itu, lanjut Laduani, 4.000 ha akan dijadikan sebagai kawasan persawahan, sedangkan sisanya seluas 1.000 ha akan diperuntukan bagi bidang pertanian lainnya dan infrastruktur pendukung. Yakni 100 ha untuk kawasan peternakan, 100 ha untuk perikanan darat, 100 ha untuk agro industri, 100 ha untuk infrastruktur gudang dan pabriknya, 100 lainnya digunakan untuk tanaman pendek, 100 ha untuk tanaman jangka panjang, 100 ha untuk pemukiman dan 100ha untuk pengolahan limbanya yang dapat menghasilkan untuk pupuk organik.

Namun untuk membangun 24 claster tersebut akan dilakukan secara bertahap. ‘’Untuk membangun setiap claster ini akan dilakukan bertahapsecara murni swakelola,’’ jelasnya. Artinya, pembangunan satu claster kecil itu tidak seluruhnya tanggung jawab pemerintah semata, tapi swasta dan masyarakat yang akan memainkan perannya. ‘’Tetap ada kontribusi pemerintah.Tapi apa yang ditanamkan oleh pemerintah dalam membangun infrastruktur itu akan dihitung sebagai investasi,’’ terangnya. ‘’Artinya swasta dan masyarakatlah yang akan lebih berperan dalam mengembangkan dan mengelola lahan tersebut,’’ sambungnya lagi. Untuk mempertahankan lahan pertanian subur seluas 1,2 juta ha agar kedepan tidak dialihfungsikan, maka menurut Laduani akan dibuatkan Perda untuk memproteksinya. ‘’Pemerintah akan melindunginya melalui sebuah Peraturan Daerah sehingga lahan subur 1,2 juta ha itu tidak berubah fungsi. Pemerintah akan ketat dalam mengawasi di lapangan agar lahan-lahan itu tidak beralih fungsui. Karena kenyataan bahwa sekarang ini banyak lahan pertanian (persawahan,red) terutama di Pulau Jawa yang terus berubah fungsi menjadi kawasan perumahan dan industri,’’ terangnya. (Bersambung)

28 July 2007

Jayapura : Di Muara Tami, Gubernur Tanam Sagu dan Tabur Bibit Ikan

(www.cenderawasihpos.com, 27 Juli 2007)
JAYAPURA-Mengakhiri kegiatan turun kampungnya (Turkam) di Distrik Muara Tami, Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH, kemarin, didaulat untuk menabur benih/bibit ikan tawar di Balai Benih Ikan (BBI) Koya Barat, dan menanam pohon sagu di Kampung Skow Sae.Suebu, dalam sambutannya, mengatakan, khusus untuk ikan mengandung gizi yang tinggi, sebab mengandung nutrisi protein, yang tentunya sangat bermanfaat bagi kelangsungan gizi masyarakat.Terutama sangat berguna bagi perkembangan janin ibu hamil dan anak-anak Balita itu sendiri.Sebab berdasarkan hasil penelitian yang terkini, nutrisi protein ikan bila diberikan secara terus menerus maka akan membantu secara optimal pembentukan perkembangan IQ (aikyu) otak anak menjadi cerdas dan pintar. Apalagi ikan tawar yang memiliki protein yang sangat tinggi dibanding dengan ikan laut.

“Orang kampung itu biasanya makan ikan. Ikan itu pentingnya bagi ibu hamil dan sel-sel otak anak,”ujarnya di sela-sela penaburan ikan tawar di BBI Koya Barat, Kamis, (26/7) kemarin.Untuk itu, ia menegaskan kepada masyarakat Papua agar setiap hari diwajibkan terutama ibu hamil dan anak untuk mengkonsumsi ikan.Soal nutris ikan, dirinya menyatakan, kebijakan yang akan diambil pihaknya adalah sedang membentuk tim untuk mengembangkan nutrisi ikan, yang nantinya dikemas dalam asupan bahan makanan berupa telo (petatas) untuk dijadikan makanan instant seperti roti, mie, maupun berbagai jenis makanan lainnya yang tentunya memiliki nilai gizi yang tinggi bagi masyarakat.“Saya minta kawasan Koya Barat/Koya Timur ini dikembangkan beberapa hektarnya menjadi kawasan yang memproduksi ubi/petatas itu. Negara Jepang, menerapkan kebijakan ini, sehingga masyarakatnya sangat pintar,”imbuhnya.

Sementara itu, pada penanaman sagu di Kampung Skow Sae, dirinya menyatakan, apapun yang dibangun di negeri ini hendaknya dihargai dan dihormati apalagi hal itu menyangkut kearifan lokal, salah satunya perlu dilestarikannya tanaman sagu yang kini mulai mengalami kepunahan.Ia menegaskan, agar kedepannya makanan yang berasal dari sagu harus dijadikan sebagai makanan utama dalam kehidupan di kampung, disamping makanan-makanan lainnya, sebab makanan sagu selain mengandung karbohidrat, juga turut mengantarkan segala nutrisi dengan baik, seperti ikan dan sebagainya dalam tubuh seseorang.(nls)

Serui : Dinas Kelautan Gelar Sosialisasi Pengawasan

(www.papuapos.com, Jumat 27 Juli 2007)
Habitat biota laut dan terumbu karang di perairan kabupaten Yapen Waropen kini terancam rusak. Hal ini disebabkan kebiasaan warga yang menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak. Tak pelak kondisi ini mengundang keprihatinan dari dinas perikanan dan kelautan sehingga mereka menggelar sosialisasi pengawasan.Kegiatan sosialisasi yang berlangsung di aula kantor dinas kelautan dan perikanan tersebut diikuti 25 nelayan yang berasal dari beberapa distrik.Kepala dinas perikanan dan kelautan kabupaten Yapen Waropen Ir. Jhon Pattinama mengatakan kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu wujud kepedulian dinas perikanan dan kelautan provinsi Papua terhadap perlindungan sumber daya kelautan.

Dia berharap dengan mengikuti kegiatan tersebut para nelayan dapat ikut bertanggung jawab perlindungan dan pelestarian sumber daya kelautan dan perikanan.Bahkan dia menegaskan jika masyarakat mengetahui masih ada yang melakukan praktek penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak saat mencari ikan agar melaporkan kepada pihak berwajib.“Kalau masyarakat mengetahui ada yang menggunakan bahan peledak saat menangkap ikan supaya melapor ke pihak polisi sehingga ditindak sesuai hukum yang berlaku," jelasnya.**

27 July 2007

Jayapura : Gubernur Bantu Bibit Ikan Buat Kota Jayapura

(www.papuapos.com, Jumat 27 Juli 2007)
Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu,SH dalam rangkaian Turkam di Kota Jayapura yang dipusatkan di Skow, menyempatkan diri berkunjung ke Balai Benih Ikan di Kelurahan Koya Barat Distrik Muara Tami. Dalam kesempatan itu, gubernur memberikan bantuan bibit ikan untuk dikelola secara baik. Pemberian bibit ikan mujair oleh gubernur merupakan salah satu wujud dari kegiatan Turkam, dalam peningkatan ekonomi rakyat di tingkat Kampung, sehingga apa yang menjadi kebutuhan masyarakat setempat setidaknya dapat terpenuhi."Bantuan bibit ikan ini, diharapkan kepada pemerintah Kota Jayapura, agar dikelola secara baik, sehingga segala kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi,"ungkap gubernur Bas Suebu, Kamis (26/7) kemarin.

Balai Benih Ikan yang telah dibangun pemerintah Kota Jayapura sejak tahun 2002, merupakan salah satu sumber bibit ikan bagi setiap usaha yang dimiliki bagi masyarakat sekitarnya yang kemudian dikembangkan secara baik dan benar.Berbgaia macam jenis ikan terdapat di Balai Benih tersebut, mulai dari ikan Mas, Mujair, Bawal, Lele yang dinilai Gubernur keseluruhannya merupakan pasokan nutrisi dan gizi yang sangat tinggi.Untuk itu gubernur berharap agar setiap masyarakat kampung harus memakan ikan, terutama bagi ibu sedang hamil karena sangat baik bagi pertumbuhan anak.“ Dalam kesempatan ini saya mengajak seluruh masyarakat kampung seringlah makan ikan, meskipun memang sulit untuk membelinya, dengan program ini kita mulai semuanya dari kampung,"ujarnya.

Selain itu, Gubernur juga menilai bahwa balai benih ikan, perlu lebih dikembangkan dengan memperluas areal lahan, karena permintaan akan bibit ikan cukup tinggi tidak hanya dari masyarakat Kota Jayapura, melainkan dari luar daerah pun ada.“ Saya lihat sangat bagus pengelolaan balai benih ini, tetapi alangkah lebih bagus jika diperluas, tetapi jangan dijadikan sebagai lahan proyek dalam hal ini,"tegasnya.**

Jayapura : Karantina Hewan Musnahkan 60 Kg Daging Babi, Karena Tidak Disertai Dokumen Lengkap

(www.cenderawasihpos.com, 26 juli 2007)
JAYAPURA- Petugas Karantina Hewan Pelabuhan Laut Jayapura, Rabu ( 25/7) kemarin memuasnahkan daging babi sebanyak 60 Kg, karena tidak disertai dokumen yang lengkap. Daging babi yang dikemas dalam pelastik itu disita dari seorang penumpang KM Ngapulu bernama Yeti ( 43) saat turun di Pelabuhan Jayapura, Selasa ( 24/7) sekitar pukul 17.00 WIT.Daging babi tersebut didatangkan dari Kota Manado, namun setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata pemiliknya tidak bisa menunjukkan surat-surat atau dokumen resmi seperti surat izin dari instansi peternakan termasuk sertifikasi kesehatan.Kepala Seksi Informasi dan Dokumentasi Karantina Hewan Boaz Henry melalui Penanggungjawab Karatina Hewan Pelabuhan Laut Jayapura, drh M Taufik K kepada wartawan mengungkapkan, penyitaan daging babi tanpa dukumen tersebut berawal dari informasi yang diperoleh petugas intelejen karantina hewan bahwa di atas KM Ngapulu ada penjual daging babi dengan harga murah.Terkait informasi itu, pihaknya langsung berkomunikasi dengan aparat KP3 Laut. Lewat kegiatan sweeping tersebut, akhirnya daging babi itu ditemukan dan langsung disita. " Setelah kami periksa, pemilik daging itu tidak memiliki dokumen-dokumen yang sah sesuai Peraturan Karantina yakni UU No 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan dan Pertumbuhan serta PP No 82 Tahun 2000," ujar M Taufik di Kantor Karantina Hewan, kemarin.Lebih jauh dikatakan, selain tidak dilengkapi dokumen resmi, setiap masuknya daging babi ke wilayah Kota Jayapura, juga perlu diwaspadai, karena merupakan media pembawa penyakit Hog Cholera, yakni jenis penyakit hewan yang menular semacam flu burung. Apalagi berdasarkan hasil penelitian ( Badan Kesehatan Hewan Dunia ( OIE), Hog Cholera merupakan jenis penyakit hewan menular masuk daftar A yang sangat berbahaya." Daging babi itukan didatangkan dari Kota Manado yang merupakan daerah centra babi, sekaligus daerah paling banyak ditemukannya kasus Hog Cholera. Jika sampai virus itu menular ke populasi babi di Kota Jayapura maka akan menjadi kerugian besar bagi masyarakat, karena daging itu sudah menjadi kebutuhan konsumsi masyarakat," paparnya.

Ditambahkan, sesuai pasal 5 UU No 16 Tahun 1992 tentang karantina Hewan dan Tumbuhan, setiap pembawa media hewan yang masuk dari satu daerah ke daerah lain harus dilengkapi dengan surat izin dan sertifikasi kesehatan. Sebab, kasus tersebut sudah pernah ditemukan di Kota Jayapura pada 2005 lalu. Jika ada yang sengaja mengabaikan aturan itu atau sengaja melakukan pelanggaran, maka sesuai pasal 31 ayat 1, mereka bisa dikenakan ketentuan pidana yakni pidana penjara 3 tahun dan denda sebesar Rp 150 juta.Dari pantuan Cenderawasih Pos, sebelum daging itu dimusnah dengan cara dibakar di dalam lubang galian tanah, petugas terlebih dahulu menyemprotkan cairan Virkon guna membunuh kuman-kuman atau virus yang ada dalam daging babi tersebut. (mud)

25 July 2007

Jayapura : Perusahaan Terbesar Dunia Akan Kelola Kelapa Sawit di Keerom

Kemarin, Gubernur Turkam di Kampung Workawana Arso
KEEROM-Pemerintah berencana akan mengembangkan kembali lahan kelapa sawit di Kabupaten Keerom yang saat ini dinilai kurang berkembang, sehingga kelak dapat meningkatkan kembali aktifitas perekonomian masyarakat setempat, sesuai dengan rencana trategis pembangunan dari Kampung (respek). Demikian tersebut terungkap saat Gubernur Papua, Barnabas Suebu,SH, melanjutkan program turun kampung (turkam) di kampung Workawana, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Senin (23/7),kemarin.Dikatakan oleh Gubernur Papua, Kabupaten Keerom, dulunya sebagai daerah penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia, namun hingga saat ini hal tersebut malah terbalik. Bahkan usaha tersebut sudah tidak digemari lagi oleh masyarakat setempat, padahal usaha kelapa sawit sangat cocok untuk daerah, seperti di Kabupaten Keerom.

“Saya tadi berbincang-bincang dengan bupati Keerom, dan saya menanyakan informasi tentang perkembangan kelapa sawit di sini, ternyata dari keterangan Bupati, perkembangan kelapa sawit nampaknya sudah lesuh, akibat dari kurangnya investor dan modal,”katanya.Untuk itu menurut Gubernur, dirinya sudah mengundang perusahan pengelolaan kelapa sawit terbesar di Dunia, yakni PT, Rajawali Grup, yang bermukim di negara Malaysia untuk datang ke Kabupaten Keerom berinvestasi.Dengan demikian akan membangkitkan kembali pengelolaan kelapa sawit di daerah tersebut, sehingga pendapatan masyarakat setempat akan meningkat kembali.“ Saya sudah mengundang perusahan kelapa sawit terbesar di dunia untuk datang ke Keerom, sehingga tahun atau tahun 2008, perusahan tersebut sudah akan beroperasi di Kabupaten Keerom,”ungkapnya. Lanjutnya, dengan adanya perusahan tersebut, maka imbasnya bagi penduduk setempat adalah perusahan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat di kampung tersebut, dalam bentuk pembangunan fisik maupun pengembangan sumber daya manusianya, terutama terhadap masyarakat asli setempat. “Kami harapkan perusahan tersebut juga akan membangun rumah-rumah sehat bagi warga sekitarnya, sehingga akan membentuk sebuah kampung yang rapi dan penduduknya sejahtera,”jelasnya. Ditambahkan, selain mengundang investor, dirinya juga dalam tahun ini akan menurunkan dana Rp 100 juta ke kampung-kampung, namun dirinya berharap agar aparat kampung serta warga di kampung duduk bersama, lalu membuat program yang jelas, sehingga dana yang akan diturunkan tersebut dapat benar-benar memberdayakan masyarakat di kampung tersebut. “ Dana Rp, 100 juta yang akan dikucurkan ke kampung, namun saya harapkan dana tersebut, harus benar-benar bermanfaat, jika saya periksa pada tahun berikut, ternyata dana tersebut hilang tanpa ada kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, maka kepala kampung tersebut akan dipecat,dan kampung tersebut tidak lagi mendapatkan dana pemberdayaan kampung tahap berikutnya,”tegasnya.Sementara itu berkaitan dengan hari anak nasional, Gubernur Barnabas Suebu mengatakan, dirinya berharap agar pemerintah daerah serta semua masyarakat Papua untuk dapat memperhatikan anak-anak Papua, sebab anak-anak tersebut merupakan massa depan dari suatu bangsa dan daerah.Sekedar diketahui, dalam acara turkam tersebut, Gubernur beserta rombongan juga melihat dari dekat kegiatan pembangunan di Kabupaten Keerom, selama masa kepemimpinan Bupati, Celcius Watae dan Wafir Kosasih, di Kantor Kampung Workwana, serta Gubernur juga dalam kesempatan tersebut meresmikan pencanangan desa siaga Se-Kabupaten Keerom 2007.Sesuai dengan rencana Gubernur, juga masih akan melanjutkan turkam, pada hari ini. Salah satu kegiatan yang akan dilakukan adalah, akan melihat secara langsung kondisi jembatan Muara Tami yang masih putus pasca banjir di Kabupaten Keerom, awal April lalu, serta akan berdialog dengan tokoh masyarakat dan tokoh adat serta pemuda di Kabupaten Keerom.(cak)

24 July 2007

Jakarta : Aneh, di Papua Banyak Terdakwa Illegal Loging Divonis Bebas, Wawancara dengan Menteri Kehutanan M.S. Kaban

Menteri Kehutanan (Menhut) Malam Sambat (M.S.) Kaban sempat berpolemik dengan institusi kepolisian terkait penanganan kasus illegal logging. Buntut dari polemik itu, dia disebut-sebut akan diperiksa di Polda Riau dan bisa menjadi tersangka. Apa yang menyebabkan Kaban berani mengkritik polisi? Berikut petikan wawancara Jawa Pos (grup Cenderawasih Pos) dengan Kaban:

Banyak tudingan miring ditujukan kepada Anda. Tanggapan Anda?
Ah, itu cobaan saja. Kita harus selalu menghadapi dengan sabar dan ikhlas. Toh, sudah saya jelaskan kepada seluruh pihak, termasuk media massa. Sekarang sudah selesai kok. Semua sudah saya klarifikasi. Saya tegaskan, saya lurus-lurus saja menangani kasus-kasus yang terjadi di bawah kewenangan saya. Semua akan saya tangani dengan adil.

Saat mulai muncul konflik dengan kepolisian, kabarnya Anda sempat tegang?
Nggak juga. Saya tetap seperti biasa. Yang jelas, saya masih sempat olahraga. Biasanya badminton, berkumpul dengan keluarga, dan tetap bersemangat dalam menyelamatkan lingkungan. Saya katakan kepada Anda, khusus soal pemberantasan illegal logging. Dalam Islam, mengelola, merawat, dan menyelamatkan lingkungan menjadi kewajiban umat. Itu diatur dalam Alquran dan hadis. Misalnya, surat ke-33 ayat 15, mewajibkan kita untuk menjaga lingkungan dengan berperan aktif dalam kegiatan menanam pohon. Misalnya, sebelum kiamat, kita dianjurkan untuk menanam pohon. Ada perintah yang menyebutkan tanamlah biji kurma yang ada di tangan sebelum besok kiamat. Selain itu, menjaga lingkungan bisa menyelamatkan kita, baik di dunia maupun akhirat kelak. Jadi Menhut itu nilai ibadahnya sangat tinggi. Sebab, terkandung nilai-nilai spiritual di dalamnya. Asalkan, kita bisa menjiwai. Jadi, disebut tegang tidak juga. Kuncinya ya itu tadi, semua kita niatkan ibadah.

Anda sempat mengusulkan pergantian tiga Kapolda yang berbuntut panjang. Bisa Anda jelaskan akar masalahnya?
Ingat, salah satu program seratus hari dari Kabinet Indonesia Bersatu adalah pemberantasan illegal logging. Yang semuanya diatur dan dituntun oleh Inpres No 4 Tahun 2005. Inpres sudah jelas dan tegas mengatur apa yang menjadi sasaran dalam pemberantasan illegal logging. Penekanannya adalah seluruh aktivitas yang tidak punya izin wajib dibabat. Parameternya jelas, semua kegiatan bisnis kehutanan yang tidak punya izin alias illegal harus diberantas. Yang terjadi di lapangan justru banyak kebalikannya. Banyak sekali perusahaan berizin dibabat pula. Ini kan nggak bener. Dalam konteks pemberantasan illegal logging, pemerintah tidak menginginkan perusahaan yang legal, ikut mati. Tetapi, justru malah harus diselamatkan. Perusahaan sektor kehutanan harus tumbuh, berkembang, dan bangkit kembali. Selama ini industri kehutanan kita sangat terganggu oleh kompetitor asing yang memanfaatkan kayu ilegal asal Indonesia. Misalnya, banyak produk furnitur buatan luar yang harganya sangat murah. Diduga bahan kayunya berasal dari hutan Indonesia yang diperoleh secara ilegal.

Artinya, Polri sering salah tangkap dalam pemberantasan illegal logging?
Bukan begitu. Inpres itu (Inpres 4/2005, Red), mengatur perihal koordinasi antarinstansi yang berwenang dalam upaya pemberantasan illegal logging. Mulai Dephut, Polri, TNI, kepala daerah, Depkeu, hingga Deplu juga dilibatkan. Bahkan, dalam inpres tersebut, TNI memerintahkan untuk menangkap pelaku illegal logging. Kemudian, izin yang diberikan gubernur, bupati, dan wali kota tidak sesuai dengan hukum harus dicabut. Itu amanat inpres lho. Jadi, operasi pemberantasan illegal logging tidak bisa maksimal tanpa adanya koordinasi. Itu juga dilakukan untuk mencegah kesimpangsiuran. Menurut saya, Kapolri sudah sangat baik dan tegas. Hanya, niat baik Kapolri memberantas illegal logging disalahterjemahkan anak buah Kapolri. Yang ditangkap bukan cukongnya, tapi operatornya saja.
Saya juga heran, di Papua, dari 23 kasus pembalakan liar yang diadili di pengadilan, semua terdakwa bebas. Saya menjadi bertanya-tanya. Karena itu, saya akan terus meningkatkan koordinasi dan pengawasan bersama dengan aparat hukum dan kepolisian. Intensitas koordinasi dengan Kapolri dan Kejagung makin ditingkatkan.

Anda sempat menemui Kapolri. Ada pembicaraan serius saat itu. Jadi ajang saling klarifikasi?
Pertemuan rutin saja nggak ada yang istimewa. Hanya, momentumnya yang mungkin dirasa pas. Yakni, kebetulan ada perkembangan pelaksanaan operasi illegal logging di lapangan. Jadi, pembicaraan kita memang fokus soal itu (illegal logging, Red). Memang, ada sedikit yang harus dicarikan titik temu. Kita ingin mengembalikan secara proporsional dan profesional sesuai dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi). Tentunya tupoksi dari Polri dan kehutanan. Alhamdulillah, akhirnya kita capai adanya kesepakatan dan kesepahaman yang positif. Jangan sampai pemberantasan illegal logging malah kontraproduktif terhadap bisnis kehutanan yang punya izin. Sebab, banyak sekali pengusaha yang legal mengadu tentang hambatan ini.

Akhirnya muncul usul pencopotan tiga Kapolda itu?
Patokan saya adalah Inpres 4/2005 bahwa tiga bulan sekali, kami serahkan laporan kepada presiden. Saya banyak temukan peristiwa yang aneh dan simpang siur. Misalnya, di Papua. Banyak terdakwa kasus illegal logging yang divonis bebas. Begitu pula di Sumatera Utara, banyak cukong kayu ilegal yang divonis bebas. Ada pula perusahaan berizin, tetapi diperkarakan. Akibatnya, perusahaannya tidak bisa beroperasi. Demikian pula di Riau. Dalam benak saya bertanya, mengapa banyak pelaku illegal logging bisa bebas? Ada tiga pandangan. Pertama, apakah karena BAP (berita acara pidana) yang diajukan jaksa tidak mendalam sehingga mudah dipatahkan? Kedua, pengusaha kayunya legal hanya menjadi korban saja. Tidak ada kasus tetapi dipaksakan saja. Ketiga, majelis hakimnya yang bermain.

Temuan Anda sendiri?
Di beberapa kasus, hasil BAP yang diajukan jaksa ke pengadilan, cenderung tidak layak atau lemah. Saya juga menemukan satu fakta di Papua yang bikin penasaran.Masak ada kasus illegal logging, kasusnya P-21 (dilanjutkan ke penyidik, red), tetapi polisi malah keluarkan SP-3 (surat perintah penghentian penyidikan). Nah, ini kan perlu dievaluasi.

Menyikapi kondisi tersebut, apa yang Anda lakukan?
Dalam kasus itu, kami sangat concern untuk menjaga kewibawaan seluruh institusi. Kita tidak ingin dinilai pemerintah tidak serius dalam memberantas illegal logging. Kita juga tidak rela kalau institusi kepolisian dianggap bermain dalam kasus ini. Memang, selalu ada ekses di lapangan yang memanfaatkan kesempatan. Itu kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri. Akibatnya, para pelaku illegal logging atau cukong tidak ada yang tersentuh. Atau kurang disentuh. Padahal dalam Inpres 4/2005, memerintahkan seluruh pelaku illegal logging termasuk penampung kayu illegal harus diusut. Jadi tidak ada alasan yang menyebutkan dalam inpres tidak disebutkan adanya perintah untuk menangkap cukong kayu.

Apa prioritas pemberantasan illegal logging? Tangkap cukong atau menyelamatkan kayu?
Dalam operasi pemberantasan illegal logging, bukan hanya diprioritaskan pada bagaimana menyelamatkan kayu saja. Tetapi, kita juga ingin membangun kesadaran di masyarakat. Kita sudah harus membudayakan anti pencurian kayu. Untuk itu, seluruh unsur yang berpotensi mendorong terjadinya pencurian kayu harus digerus atau dikikis. Bisnis yang punya izin harus dilindungi supaya mereka bisa bekerja maksimal dan kita pun bisa melakukan pembinaan serta pengawasan secara optimal.

Soal Adelin Lis (tersangka illegal logging yang sempat kabur, Red). Katanya, dalam kasus Adelin Lis yang kini ditangani PN Medan, ada rencana Anda dipanggil?
Dalam kasus Adelin Lis merupakan bentuk usaha penegakan hukum yang harus kita junjung tinggi. Kita mendukung penuh. Tetapi, kita jangan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama dengan kasus yang berbeda. Soal pemanggilan saya, saya nggak mau komentar. No comment lah. Sebab, semuanya kan masih katanya, katanya, dan katanya.(iw/yun)

23 July 2007

Jayapura : Muara Tami Cocok Dikembangkan Tanaman Pangan

(www.cenderawasihpos.com, 23 Juli 2007)
JAYAPURA-Kepala Dinas Pertanian Kota Jayapura, Dominggus Wafumilena, mengatakan, pengembangan kawasan pertanian di Distrik Muara Tami, khususnya bagi warga di sekitar Kampung Skow Mabo, Skow Sae, dan Skow Yambe, akan diarahkan pada pengembangan tanaman pangan dan perkebunan.“Sesuai program kami di Pemkot, untuk kawasan Muara Tami ini dikembangkan tanaman pangan dan perkebunan,”ujarnya kepada wartawan di halaman Kantor Distrik Muara Tami, Sabtu, (21/7). Untuk tanaman pangan pihaknya mengarahkannya pada tanaman seperti semangka, kacang tanah.Ia menjalaskan, untuk komoditi tanaman semangka, kacang tanah tersebut, sangat cocok dikembangkan, karena dari sisi kualitas dan mutunya sangat bagus, apalagi sesuai dengan struktur tanah pada wilayah itu.“Untuk tiga kampung Skow ini lebih tepat dikembangkan tanaman kacang tanah dan tanaman semangka. Itu dari sisi tanaman pangannya,” tandasnya.


Sementara pengembangan tanaman perkebunan, pihaknya akan lebih mengarahkan pada tanaman pohon kelapa dan sagu. “Ini juga untuk membiasakan masyarakat tidak melupakan makanan lokal seperti sagu itu, sebab saat ini banyak masyarakat mulai meninggalkan makanan lokal dan mengkonsumsi makanan-makanan dari luar. Jadi hutan sagu harus dilestarikan,”imbuhnya.Terkait dengan program itu, pihaknya meminta kepada masyarakat kampung untuk segera menyusun program-program pemberdayaan kampung, sehingga dapat diusulkan tahun ini, untuk direalisasikan pada anggaran 2008 mendatang.“Masyarakat di kawasan Muara Tami ini harus termotivasi untuk memberdayakan dirinya melalui program kegiatan yang sendiri dibuatnya. Misalnya tanaman sagu, jika tebang satu, maka harus ditanam 10 pohon. Rawa-rawa sagu tidak boleh diizinkan bagi para investor yang masuk untuk membalikkan fungsi lahan itu. Contohnya di Kampung Yoka, lahan sagunya yang sekarang mulai alih fungsi,” sambungnya.(nls)

22 July 2007

Biak : Gunakan Bom Ikan, Nelayan di Supiori Diamankan

(www.cenderawasihpos.com, Sabtu 21 Juli 2007)
BIAK - Seorang nelayan berinisial RI (35 tahun) terpaksa berurusan dengan jajaran Polres Persiapan Supiori karena diduga menggunakan bom ikan. Selain telah mengamankan RI, polisi saat ini juga masih melakukan pengejaran terhadap pelaku lainnya berinisial Ud (32 tahun). Tersangka RI yang saat ini menjalani penahanan di Polsek Supiori Selatan, dilaporkan sempat melarikan diri ke Biak.

Kapolres Persiapan Supiori Kompol Heri Setyawan yang dihubungi Cenderawasih Pos Jumat (20/7) kemarin membenarkan adanya penahanan seorang oknum nelayan berinisial RI yang diduga telah melakukan pengeboman ikan 5 Juli lalu bersama salah satu rekannya berinisial Ud yang masih buron.

Pelaku menggunakan bom ikan yang dengan bahan belerang yang diisi dalam botol kratingdaeng. ”Dari hasil pemeriksaan, belerang yang dijadikan bahan untuk membuat bom tersebut dibeli tersangka di Pasar Inpres Biak sebanyak satu botol bir kemudian belerang itu diisi ke dalam dua botol kratingdaeng.Namun hanya satu yang berhasil diledakan, ”ungkapnya.Aksi penggunaan bom ikan yang dilakukan oleh tersangka RI kata Kapolres Heri Setyawan diketahui aparat Polres Persiapan Supiori atas laporan dari masyarakat.

Salah seorang tersangka lainnya yang masih dalama pengejaran yaitu Ud diinformasikan telah melarikam diri ke Desa Inggiri Kabupaten Biak Numfor. Namun ketika dilakukan pengejaran ke Inggiri menurut informasi masyarakat Ud sudah meninggalkan Biak Numfor dengan menggunakan kapal putih.”Tersangka utama RI sendiri juga sempat melarikan diri ke Inggiri dan setelah meresa aman dia kembali ke Sowek dan berhasil ditangkap oleh anggota, ”terangnya.

Selain mengamankan tersangka RI, Kapolres Heri Setyawan mengatakan polisi juga telah mengamankan sejumlah barang bukti diantarannya perahu dan mesin jhonson yang digunakan tersangka dalam melakukan aksi pengeboman. Berdasarkan bukti-bukti serta keterangan beberapa orang saksi, tersangka RI kata Kapolres Heri Setyawan dapat dijerat dengan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1957 dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.(nat)

Jayapura : Utusan Pemkot Berangkat ke Jepang

(www.cenderawasihpos.com, Sabtu 21 Juli 2007)
JAYAPURA-Undangan Menteri Lingkugan Hidup RI Rachmat Witular untuk melihat kegiatan pembangunan yang tidak merusak lingkungan di Jepang, benar-benar ditindaklanjuti Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura. Buktinya, Jumat (2o/7) kemarin, Pemkot mengirim dua utusannya yakni Kepala Bapedalda Kota Jayapura, Drs Hendrik Hamadi dan Ketua DPRD Kota Jayapura, Drs Theopilus Bonay, MM untuk berangkat ke Jepang.

Kepala Bapedalda saat dikonfirmasi mengatakan, dengan kunjungan tersebut, setidaknya pihaknya dapat mengambil pengalaman dan maupun ilmu yang berharga tentang lingkungan hidup untuk diterapkan di wilayah kota ini yang mulai mengalami kerusakan, yang lainnya diharapkan Jepang bisa bekerjasama dengan Pemkot dalam penanganan lingkungan."Kerjasamanya minimal bisa memberikan bantuan kepada Pemkot guna penanganan lingkungan di kota ini,"katanya kepada Cenderawasih Pos via telepon, Jumat, (20/7) kemarin.Sekadar diketahui, program-program yang akan dijual di sana antara lain program pemeliharaan lingkungan pasca perang dunia II, program pengangkutan dan pendeteksian sisa-sisa bahan perang yang berbahaya bagi lingkungan dan masyarakat, seperti bom, mortir dan sejenisnya yang masih aktif hingga saat ini.

Program rehabilitasi kemanusiaan fisik dan mental masyarakat, akibat perang dunia kedua, antara Jepang dengan pihak Sekutu. Program inventarisasi sisa peralatan perang yang bercirikan Jepang serta berbagai program lainnya.Dengan penawaran program itu, setidaknya bisa tercipta suatu kerja sama antara Pemerintah Jepang dan Pemerintah RI dalam hal ini Pemerintah Provinsi Papua/Kota Jayapura, terhadap penanganan masalah lingkungan itu.(nls)

21 July 2007

Jayapura : Kelurahan Argapura Galakkan Kebersihan Lingkungan

(www.cenderawasihpos.com, Sabtu 21 Juli 2007)
JAYAPURA-Guna menciptakan lingkungan yang bersih, pihak Kelurahan Argapura, Distrik Jayapura Selatan bersama warga setempat melakukan kegiatan bersih-bersih. Dari pantauan Cenderawasih Pos, warga setempat bergotongroyong membersihkan (baca membabat) rumput maupun yang tumbuh liar di sepanjang jalan di wilayah tersebut.

Kepala Kelurahan Argapura, Yeremias Nawipa, S.IP, mengatakan, kegiatan kebersihan yang dilaksanakan pihaknya itu, selain menyambut HUT RI ke-62 juga untuk mengajak masyarakat memelihara kebersihan lingkungannya. "Selain untuk menyambut momentum besar itu, juga untuk mengajak warga mengenal betapa pentingnya kebersihan itu,"ujarnya kepada wartawan di sela-sela kegiatan kebersihan di Jl Argapura Bawah, Kelurahan Argapura, Distrik Jayapura Selatan, Jumat, (20/7) kemarin.

Diterangkannya, kebersihan lingkungan perlu dibudayakan sebab, dirinya menyadari bahwa kebersihan lingkungan merupakan sesuatu hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan seseorang tanpa terkecuali. Dijelaskannya, siapapun dia, bila lingkungannya bersih dan sehat, maka tentu jiwa maupun orangnya akan sehat pula. "Kebersihan itu merupakan bagian dari iman," paparnya.Untuk membudayakan kebersihan masyarakat, maka dalam setiap bulan berjalan, pihaknya akan melakukan kegiatan kebersihan sebanyak dua kali. "Untuk ruas jalan utama, saya juga akan galakkan warga membantu Dinas Kebersihan dan Pemakaman (DKP) Kota Jayapura untuk membersihkan saluran-saluran serta membersihkan rumput-rumput liar yang ada di wilayah kami itu," katanya.(nls)

Spesies : Katak Hijau, spesies baru dari Papua

Katak hijau dari genus Litoria
Para ilmuwan Conservation International baru-baru ini menemukan, spesies baru bagi dunia ilmu pengetauan, katak hijau dari genus Litoria yang dijumpai di kawasan utara daratan Papua. Jenis baru ini hampir sama dengan Litoria graminea dan Litoria infrafrenata. Yang membedakan dengan Litoria graminea adalah keberadaan baris putih di bagian pinggir yang kuping yang tidak tampak. Sedangkan dari jenis Litoria infrafrenata adalah ukuran tubuh yang bila dibandingkan relative kecil (jantan 57.9–60.4 mm). Jari-jarinya mempunyai selaput dan suaranya agak panjang.

Para peneliti menemukan katak hidup di hutan dataran rendah disekitar Desa Utai di bagian Barat Daya Papua. Laporan mengenai jenis baru ini ditulis oleh Stephen J. Richards, Paul Oliver, Chis Dahl dan Burhan Tjaturadi, bertajuk: A new species of large green treefrog (Anura: Hylidae: Litoria) from northern New Guinea, dalam jurnal ilmiah zootaxa 1208:57-68,2006.
Tanah Papua merupakan kawasan yang memiliki berbagai macam jenis kodok terkaya di dunia. Masih banyak rahasia alam yang belum terungkap di kawasan ini. Misalnya sekarang saja telah dijumpai lebih dari 280 taksa kodok, dan dari klasifikasi tersebut diperkirakan jumlah kodok Papua akan mencapai hingga 600 spesies./fm. (Majalah Tropika Musim Tanam (Januari-Maret Vol 11 No 1,2007)

Manokwari : Taman Nasional Teluk Cenderawasih

(Enewsletter WWF-Indonesia Program Region Sahul Papua - Edisi I / 2007 Bahasa Indonesia)

Wasior, Penetapan Kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih, sebelumnya telah didahului oleh berbagai riset lapangan yang dimulai oleh Bank Dunia pada tahun 1987 kemudian oleh Balai Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan juga kolaborasi Conservation International, The Nature Conservancy dan WWFIndonesia guna mendukung management plan kawasan tersebut.

Upaya pengelolaan merupakan bagian penting diperhatikan dan menjadi prioritas saat ini, sehingga dikotomi antara kepentingan pembangunan dan konservasi akan menjadi agenda penting. Merujuk pada keadaan umum Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Nabire, maka dipandang perlu untuk melakukan penyesuaian atau adaptasi kepentingan berdasarkan sistim zonasi yang telah disepakati pada kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Maka pada tanggal 23 April 2007 bertempat di Aula SMUN 1 Wondama, Kabupaten Teluk Wondama dan 27 April 2007 bertempat di Aula Dinas Pekerjaan Umum, Kabupatan Nabire telah diadakan sosialisasi hasil Lokakarya Rencana Pengelolaan Taman Nasional Teluk Cendrawasih yang diikuti sekitar 70 peserta pada masing-masing kabupaten yang berasal dari berbagai instansi pemerintah terkait, legislatif, tokoh adat, tokoh masyarakat, dunia usaha, dan LSM.

Sosialisasi ini selain mempresentasikan hasil lokakarya rencana pengelolaan taman nasional, juga sekilas tentang sistem zonasi dan informasi Taman Nasional Teluk Cendrawasih secara umum yang disampaikan oleh Balai Taman Nasional Teluk Cendrawasih dan WWF. Hasil yang diperoleh dari rangkaian kegiatan sosialisasi di dua kabupaten yang wilayahnya termasuk dalam taman nasional ini adalah Naskah Kesepakatan Bersama Tentang Zonasi Taman Nasional Teluk Cendrawasih yang ditanda tangani oleh para Kepala Kampung, para Kepala Distrik, tokoh masyarakat, LMA yang mewakili seluruh peserta yang hadir dalam kegiatan sosialisasi, serta inisiator kegiatan tersebut (pemerintah daerah, Balai Taman Nasional Teluk Cendrawasih, WWF-Indonesia Region Sahul Marine Program). Naskah tersebut terdiri atas 5 pasal berisi dukungan masyarakat secara umum atas usulan Zonasi Taman Nasional Teluk Cendrawasih yangtelah disepakati terbagi atas zona inti, zona pemanfaatan tradisional, zona pemanfaatan intensif, zona perlindungan, zona rehabilitasi, dan zona situs budaya-sejarah.

20 July 2007

Fak-Fak : Parit Tersumbat, Pasukan Kuning Beraksi, Kesadaran Warga Buang Sampah Masih Kurang

(www.radarsorong.com Jumat 20 Juli 2007)
FAKFAK–Kesadaran warga kota Fakfak membuang sampah rumah tangga masih kurang, akibatnya got atau selokan tersumbat menimbulkan bau tidak sedap. Sampah rumah tangga yang dibuang ke selokan terbawa air hujan, kemudian lama-kelamaan menumpuk di sejumlah lokasi di jalan DI Panjaitan Kompleks Varia, jalan K.H.Dewantara samping loka Jaya, Jalan Pelopor dan beberapa tempat lainnya.
Sampah yang menumpuk dalam selokan di Jalan D.I. Panjaitan Kamis pagi (19/7) kemarin diangkat dan dibersihkan petugas kebersihan dari Subdin Kebersihan dan Pertamanan Dinas PU Kabupaten Fakfak. Dengan mengerahkan belasan petugas kebersihan ke lokasi tersebut, beberapa jam kemudian sampah-sampah yang telah bercampur batu dan tanah ini akhirnya diangkat ke badan jalan.
Meskipun baunya sangat menyengat hidung, namun secara bergantian pasukan kuning terus melakukan penggalian sampah yang telah membusuk ini. Sampah yang sebelumnya hampir setinggi atau rata dengan permukaan parit tersebut akhirnya selesai di bersihkan. Kasubdin Kebersihan dan Pertamanan pada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Fakfak Anton Ubra menyampaikan guna menjaga kebersihan kota Fakfak pihaknya terus melakukan pembersihan di dalam kota Fakfak hingga ke pinggiran kota.


Dikatakannya, dalam rangka mendukung Fakfak sebagai tuan rumah pelaksanaan MTQ tingkat Provinsi Papua Barat pihaknya akan terus menjaga kebersihan dan keindahan kota, agar para tamu yang datang ke daerah ini dapat mengikuti kegiatan ini dengan nyaman tanpa merasa terganggu dengan sampah-sampah yang berserakan.

Pihaknya juga menghimbau kepada masyarakat agar membuang sampah pada tempat-tempat sampah yang disediakan disepanjang jalan pada pukul 07.00 pagi agar diangkut oleh Petugas kebersihan. "Jangan buang sampah di atas jam 12.00 karena nanti tidak terangkat," jelasnya.(rey)

Sorong : Kurangi Melaut, Hasil Tangkapan Turun (Melongok Kehidupan Nelayan di Musim Angin Selatan)

(www.radarsorong.com, Jumat 20 Juli 2007)
Musim angin selatan sangat berpengaruh terhadap hasil penangkapan ikan bagi para nelayan yang sehari–harinya mencari ikan. Bahkan ada sebagian nelayan yang khusus mencari udang terpaksa harus mengurangi aktifitasnya di laut karena khawatir terkena musibah di laut. Untuk melihat sejauh mana pengaruh angin selatan terhadap pendapatan para nelayan dapat disimak dalam tulisan berikut.
Laporan : Indrawati


Lokasi perkampungan nelayan yang berada di Jalan Perikanan Klademak Pantai cukup jauh dari jalan protocol, namun demikian perkampungan tersebut cukup dikenal di lingkungan masyarakat sekitarnya sehingga tidaklah sulit untuk mencarinya. Dengan menyusuri lorong yang lebarnya sekitar 1-1,5 meter akan ditemui perkampungan nelayan dengan panggung yang terbuat dari papan. Semakin ke dalam semakin dirasakan keramaian karena tampak terlihat beberapa aktifitas, diantaranya ada anak kecil yang sedang bermain, para remaja yang asyik bercerita serta seorang ibu yang sedang mencari kutu disela-sela kesibukan memasak. Disisi lain kaum bapak disibukkan menjemur ikan untuk dikeringkan.
La Ida, salah seorang nelayan yang mencari udang banana mengaku sudah menjadi rutinitas di setiap tahun, bahwa musim angin selatan akan melanda Sorong pada bulan Juni, Juli dan Agustus. Untuk itulah dirinya terpaksa harus mengurangi aktivitas mencari udang di laut. "Kalau biasanya setiap hari kami mencari udang di laut tapi kalau angin selatan, kami hanya mencari di laut paling selama 12 hari. Sebab kalau dipaksakan kami khawatir akan celaka seperti yang terjadi tahun lalu, untung saja pada saat itu tidak ada korban jiwa,"ujar La Ida yang terlihat memiliki kehidupan yang agak lebih di lingkunannya.

Dengan mengurangi aktivitasnya di laut maka dirinya yang dipercaya mengelola 7 jhonson milik perusahaan yang menada udang hasil tangkapannya bersama dengan 21 pegawainya mengakui kalau hasil tangkapannya menurun. Bahkan terkadang tidak mencapai standar yang tentunya jika sudah seperti ini maka ia akan meminta kebijakan kepada perusahaan. "Jadi kalau biasanya penghasilan mencapai Rp 10–12 juta/bulan maka akan dikurangi biaya operasi Rp 8 juta dan sisanya akan dibagi. Dan pada musim angin selatan, biasanya hanya bisa mencapai Rp 8 juta, nah kalau sudah seperti ini kami minta kebijakan kepada perusahaan untuk disetorkan Rp 6 juta dan Rp 2 jutanya akan dibagi untuk pegawai lainnya,"jelas pria yang merintis usahanya mulai dari nol.

Hal senada juga diungkapkan oleh Wa Iza istri dari La Ilo yang setiap harinya mencari ikan di laut. Dikatakan, hasil tangkapan ikan berkurang tentunya akan berpengaruh terhadap harga jual ikan itu sendiri, misalnya untuk ikan puri yang biasa dijual Rp 20.000/keranjang (1 keranjang = 5 kg) maka bisa menjadi Rp 70.000–100.000/keranjang. Ikan hasil tangkapan yang dicari pada sore hingga pagi hari selanjutnya dijual di Jembatan Puri dan kalau masih ada yang tersisa akan dikeringkan. Terhadap musim angina selatan, ia menyatakan kalau aktivitas suaminya tak terganggu karena sudah tidak takut lagi dengan angin selatan.

Sementara Nuruki yang saat ditemui sedang membolak balik ikan sibula yang sedang dijemurnya mengatakan bahwa ikan yang dibuatnya menjadi ikan kering diperoleh dengan membeli dari nelayan yang menangkap ikan di laut. Dan hasil ikan yang dibelinya ingin ini sempat mengalami penurunan karena musim angin selatan tapi sudah dua hari ini hasil ikan yang dibelinya kembali normal. Jenis ikan yang dibeli untuk kemudian dibuat menjadi ikan asin yakni ikan puri, sibula, lema dan oci yang kemudian dijual ke Pasar Remu, Nabire, Manokwari hingga ke Jawa.***

Spesies : Ikan Pelangi (Rainbow fish) Chilatherina alleni

(IKP, Kamis 19 Juli 2007)
Bumi Papua tidak hanya kaya dengan spesies mamalia dan burung, tapi juga memiliki berbagai spesies ikan air tawar yang berwarna-warni, terutama genus ikan pelangi. Ada sekitar 53 spesies ikan pelangi, tetapi jumlah ini terus bertambah sejalan dengan penambahan kegiatan survei dilapangan. Misalnya dalan survei RAP yang dilaksanakan oleh Conservation International (CI) di Wapoga pada tahun 1998, ditemukan 3 species baru ikan pelangi.

Ikan Pelangi Alleni (Chilatherina alleni) merupakan salah satu spesies ikan pelangi yang saat ini hanya diketahui berada pada aliran sungai di bagian utara Papua, termasuk sungai Wapoga dan Siriwo. Ikan ini terdapat juga didaerah hutan hujan tropis dataran rendah hingga ketinggian 500 meter; termasuk ikan berukuran kecil (10 cm). Makanan utamanya berupa serangga dan larva air, serangga daratan yang jatuh ke air (terutama semut), udang-udang kecil dan ganggang. Aliran sungai hutan hujan tropis merupakan habitat utama Ikan Pelangi Alleni.

Ancaman dan pelestarian : Saat ini populasi ikan pelangi ini dalam keadaan aman di habitat yang ada, tapi kegiatan pembalakan hutan merupakan ancaman serius bagi kelangsungan hidupnya. Pembalakan hutan mengakibatkan hilangnya naungan serta meningkatkan kekeruhan air dan pengendapan yang dapat mematikan ikan ini. Ikan ini dikonsumsi oleh masyarakat local, tapi bukan sebagai bahan makanan utama. (disadur dari buku : Mengenal keragaman hayati Irian Jaya (Papua), Conservation International)

19 July 2007

Biak : Coremap-LIPI Gelar Kontes Inovator Muda

(www.cenderawasihpos.com, Kamis 19 Juli 2007)
BIAK-Untuk meningkatkan kepedulian remaja (siswa SMA) dalam pelestarian terumbu karang, serta mendorong minat generasi muda di bidang penelitian, Coremap-LIPI kembali mengadakan Kontes Inovator Muda (KIM) berupa pembuatan makalah penelitian atau studi pustaka mengenai pelestarian terumbu karang serta lingkungan pesisir dan laut.Terkait dengan kegiatan tersebut, Coral Reef Information and Training Center (CRITC) COREMAP melakukan sosialisasi di SMA Negeri 1 Biak Kota.Humas CRITC Coremap Phase II Dino M Musida kepada Cenderawasih Pos mengatakan, kegiatan Kontes Inovator Muda atau KIM yang digelar COREMAP-LIPI juga pernah dilaksanakan pada tahun 2003. Kegiatan KIM ini, merupakan salah satu terobosan dengan memanfaatkan jalur pendidikan non formal untuk menggugah remaja sebagai sumberdaya inovatif untuk mulai peduli pada kelestarian terumbu karang dan laut.


Dikatakan, selain melakukan sosialisasi di Kabupaten Biak Numfor, CRITC juga telah melakukan sosialisasi yang sama di Kota Sorong Provinsi Papua Barat dan respon pelajar SMA untuk mengikuti kontes ini cukup besar. ”Minat dari para siswa untuk mengikuti kontes ini cukup baik dan kita berharap adanya bimbangan dari masing-masing sekolah,”ungkapnya.Untuk mengikuti kegiatan ini menurut Dino masing-masing tim dari atas 3 orang siswa dan setiap sekolah dapat mengikut sertakan beberapa tim. Sebelum memasuki babak final, setiap peserta kata Dino akan melalui pra seleksi dan pendampingan di tingkat daerah atau site COREMAP.“Tahap selanjutnya dilakukan di Jakarta dan akan dipilih 3 makalah terbaik yang rencananya pemilihan pemenang dilakukan melalui presentasi depan juri dan panelis serta masyarakat umum pada bulan Agustus 2007, ”tambahnya.(nat)

Biak : Dihantam Gelombang, Terumbu Karang di Biak Rusak

(www.cenderawasihpos.com, Kamis 19 Juli 2007)
BIAK -Akibat hantaman gelombang besar yang terjadi minggu lalu, sejumlah terumbu karang di wilayah perairan Kabupaten Biak Numfor mengalami kerusakan yang diperkirakan terjadi mulai dari pesisir pantai Biak Timur hingga ke Wardo. Bahkan menurut informasi, beberapa kawasan terumbu karang yang rusak merupakan kawasan yang dilindungi.Koordinator Coral Reef Information and Training Center (CRITC) Coremap Phase II, Harun Saman kepada Cenderawasih Pos mengatakan, dari hasil pantaian yang dilakukan di sekitar pesisir pantai Sabah hingga ke Tanjung Barari, kerusakan terumbu karang akibat hantaman gelombang diperkirakan mencapai 80 persen dari penutupan terumbu karang. Kerusakan yang sama kemungkinan besar juga terjadi di sepanjang pesisir pantai Biak Timur hingga ke Wardo.


“Gelombang besar yang terjadi Rabu minggu lalu mengakibatkan sebagian besar terumbu karang yang ada di wilayah pesisir pantai Distrik Biak Timur hingga ke Wardo mengalami kerusakannya. Dari pantauan yang kami lakukan mulai dari Sabah hingga ke Tanjung Barari sekitar 80 persen yang terangkat atau rusak, ”ungkapnya disela-sela kegiatan Sosialisasi Kontes Inovator Muda (KIM) Pelestarian Terumbu Karang di SMA Negeri 1 Biak Kota.Kerusakan terumbu karang akibat hantaman gelombang yang terjadi minggu lalu itu, menurut Harun Saman, merupakan bencana yang tidak dapat dihindari dan hal ini akan berdampak pada ekosistem laut yang nantinya mempengaruhi perkembang biakan ikan.Sebab terumbu karang tersebut merupakan rumah atau tempat bagi ikan untuk berkembang biak.”Dampak yang akan kita alami dengan adanya kerusakan ini yaitu ikan-ikan nantinya akan menjauh. Sehingga nelayan akan semakin jauh dalam melakukan penangkapkan ikan,”tandasnya.

Disinggung mengenai rehabilitasi terhadap terumbu karang yang rusak, Harun mengatakan untuk melakukan rehabilitasi sangat sulit dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Sebab pertumbuhan terumbu karang sendiri menurutnya dalam satu tahun hanya mencapai 6 hingga 7 cm. Sehingga untuk kembali ke kondisi awal sebelum adanya hantaman gelombang membutuhkan waktu yang cukup lama.(nat)

18 July 2007

Spesies : Zodia, Tanaman Pengusir Nyamuk

(www.langit-langit.com)
Ingat nyamuk, ingat Zodia. Inilah yang selalu disebut-sebut sebagai tanaman hias anti-nyamuk atau pengusir nyamuk. Biasanya laris manis di saat demam DBD. Selain aromanya yang bisa menghalau nyamuk, konon daunnya bisa mengobati kulit yang bentol karena gigitan nyamuk. Wah ampuh tenan!

Zodia merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari daerah Papua. Oleh penduduk setempat tanaman ini biasa digunakan untuk menghalau serangga, khususnya nyamuk apabila hendak pergi kehutan, yaitu dengan cara menggosokkan daunnya ke kulit. Selain itu, tanaman yang mempunyai tinggi antara 50 cm hingga 200 cm (rata-rata 75cm), dipercaya mampu mengusir nyamuk dan serangga lainnya dari sekitar tanaman. Oleh sebab itu tanaman ini, sering ditanam di pekarangan atupun di pot untuk menghalau nyamuk. Aroma yang dikeluarkan oleh tanaman Zodia cukup wangi.


Biasanya tanaman itu mengeluarkan aroma apabila tanaman tergoyah oleh tiupan angin sehingga di antara daunnya saling menggosok, maka keluarlah aroma yang wangi. Saat ini sebagian masyarakat menyimpan tanaman zodia pada pot di dalam ruangan, sehingga selain memberikan aroma yang khas, juga aromanya dapat menghalau nyamuk dari ruangan. Namun demikian tidak berarti bahwa nantinya di dalam ruangan terdapat beberapa bangkai nyamuk sebagai akibaat dari tanaman ini, nyamuk hanya terusir karena tidak menyukai aroma dari tanaman ini. Penyimpanan tanaman juga sering diletakkan di sekitar tempat angin masuk ke dalam ruangan, nyamuk yang hendak masukpun terhalau.

Hasil Uji
Zodia (Evodia suaveolens) yang termasuk ke dalam keluarga Rutaceae, dikatakan mengandung evodiamine dan rutaecarpine. Dari beberapa literatur, tanaman ini bermanfaat sebagai anti-kanker. Menurut hasil analisa yang dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) dengan gas kromatografi, minyak yang disuling dari daun tanaman ini mengandung linalool (46%) dan a-pinene (13,26%) di mana linalool sudah sangat dikenal sebagai pengusir (repellent) nyamuk. Dari pengujian yang dilakukan penulis terhadap nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti) yang sering membuat heboh masyarakat, yaitu dengan cara menggosokkan daun zodia ke lengan, lalu lengannya dimasukkan ke kotak yang berisi nyamuk demam berdarah dan dibandingkan dengan lengan yang tanpa digosok dengan daun zodia, menunjukkan bahwa daun zodia mampu menghalau nyamuk selama enam jam dengan daya halau (daya proteksi) sebesar lebih dari 70%.

Selain itu, lengan yang digigit oleh nyamuk demam berdaarah akan cepat sembuh (bentol dan gatal) apabila digosok dengan daun zodia. Hal ini merupakan harapan baru untuk menghalau serangan nyamuk demam berdarah di masa mendatang, yaitu dengan gerakan kembali ke alam dengan memanfaatkan tanaman di sekitar kita untuk memerangi penyakit demam berdarah. Cara Perbanyakan Tanaman ini sangat mudah diperbanyak, yaitu melalui biji dan stek ranting. Biasanya apabila kita sudah memiliki tanaman yang sudah berbunga dan berbiji, maka bijinya akan jatuh dan tumbuh disekitar tanaman. Saat ini, harga bibit tanaman yang baru tumbuh dapat mencapai Rp. 5.000 hingga Rp. 10.000 per pohonnya, tanaman dengan tinggi sekitar 20 cm di dalam pot dapat mencapai harga Rp. 25.000 hingga Rp. 50.000 per pohonnya, sedangkan tanaman yang sudah mulai berbunga dapat mencapai Rp. 75.000 hingga Rp. 100.000, bahkan yang sudah berbiji dapat mencapai Rp. 150.000 hingga Rp. 200.000. Memang harga tanaman ini masih mahal karena masih tergolong langka dan bagi mereka para pengusaha tanaman, kesempatan ini merupakan ini merupakan peluang yang baik untuk berbisnis. (Penulis : Agus Kardinan, Peneliti di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Tabloid Sinar Tani, 23 Juni 2004)

Raja Ampat : Merubah Perilaku Lingkungan di Raja Ampat

Peserta pelatihan pendidikan konservasi untuk merubah perilaku dari berbagai kepulauan di Kabupaten Raja Ampat

(Majalah Tropika Musim Panen (Edisi April-Juni Vol 11 No 2, 2007))
Program Kelautan CI Indonesia di Raja Ampat mengadakan pelatihan untuk merubah perilaku masyarakat agar bijak dalam memanfaatkan sumberdaya alam

oleh : Diah Rahayuningsih Sulistiowati
Siang itu jantung saya tiba-tiba berdegup lebih kencang. Saya nyaris berteriak untuk meluapkan kegembiraan. Namun saya urung melakukannya sebab saat itu saya tengah berada di sebuah keramaian dalam sebuah loka latih di Tapak Tuan, Aceh. Saya pun hanya tersenyum simpul. Kabar yang menyenangkan itu datang melalui sebuah pesan singkat. Amalia Firman, komunikasi program kelautan CI Indonesia mengirimkan sebuah undangan untuk mengikuti changing behavior workshop (lokalatih perubahan perilaku) di kawasan Raja Ampat, Irian Jaya Barat.

Usai membaca pesan itu, pikiran saya segera menari-nari. Saya membayangkan betapa indahnya kawasan laut yang berpenduduk ….juta jiwa itu seperti yang sering ditunjukkan foto-foto bawah air milik para fotografer maupun berbagai tayangan dalam televisi. Saking senangnya, saya sampai membawanya ke alam tidur dan bermimpi indah. Siapa yang tak girang bisa berenang bersama lumba-lumba. What a wonderful life!

Usai mempersiapkan segala sesuatu, termasuk tiket dan meminun obat pencegah malaria, waktu keberangkatan pun tiba. Mata saya sulit terpejam saat malam menjelang keberangkatan. Bukan apa-apa, saya takut kebablasan, sebab pesawat menuju Sorong berangkat pada pukul 05.00. Dengan demikian, saya harus berangkat dari rumah ke bandara pada pukul tiga dini hari. Uaahhh….dengan mata masih sepat tapi semangat empat lima dan tekad baja saya pun pergi ke bandara. Saya menengok arloji, pukul 04.00. Bandara masih tutup. Saya menunggu pintu dibuka untuk melakukan check in.

Penerbangan saya cukup lancar dan sempat singgah di Makasar, Sulawesi Selatan. Tiba di Sorong, saya disambut terik mentari. Sinarnya yang menyorot kepala saya bagaikan berasal dari dua belas matahari. Maklum, Kota Sorong berada di tepi pantai dan saya tiba tepat pukul duabelas siang. Barang bawaan yang cukup banyak membuat saya mencari bantuan untuk mengangkatnya, sambil mengecek ada yang menjemput saya atau tidak, namun hati tentram setelah melihat logo CI di atas kertas yang dibawa oleh seorang pria, ternyata namanya Onal, salah satu staff CI Sorong. Wah leganya…

Masih ada waktu satu hari di Sorong sebelum pergi ke Raja Ampat, sebab menunggu tim lain dari Bali, Amalia, Mike dan Megan. Dua orang terakhir khusus didatangkan dari Washington DC, sebagai instruktur ahli untuk membuat program merubah perilaku. Kesempatan ini tak saya lewatkan begitu saja, putar-putar kota Sorong pun saya lakukan ditengah kesalnya pada koneksi internet di kantor Sorong, padahal saya harus mengirim sesuatu file yang cukup penting. Cukup lima belas menit sudah bisa putar-putar Kota Sorong dengan motor, sambil berbekal kamera di tangan kanan dan siap jepret jika ada obyek menarik.

Malam harinya, kami dijamu oleh rekan-rekan CI Sorong menyantap hidangan laut di tembok. Awalnya saya bingung, makan di tembok? Apalagi nih? Setelah sampai di lokasi, oh… ternyata warung tenda, namun lokasinya tepat di belakang tembok penghalang ombak. Tembok ini salah satu tempat nongkrong anak muda di Sorong, pinggir pantai, ngobrol sambil menikmati bulan dan bintang yang tersebar di langit yang bersih ditemani "air kata-kata". Bisa dipastikan esok paginya banyak tersebar botol-botol minuman keras, bukannya tidak boleh tetapi bekas botol itu nantinya akan dibuang langsung ke laut, dan akan berkontribusi pada kerusakan terumbu karang atau dimakan ikan, kasihan kan ikannya makan pecahan botol.

Esoknya, persiapan berangkat ke Raja Ampat, rencana sekitar jam dua siang kami berangkat. Menurut Pak Yunus nakoda kapal cepat Yaswal Tisilol -kapal cepat milik CI-, perjalanan memakan waktu dua jam, karena ada sedikit masalah di mesin kapal. Sehingga kapal tidak bisa ngebut, untuk normalnya sih cukup satu jam saja. Pikir saya, biarlah lambat asal selamat.

Lebih lambat dari perkiraan, sekitar dua jam setengah kami sampai di Waiwo, bagian Selatan Pulau Waisai, salah satu pulau besar di Kabupaten Raja Ampat. Pulau Waisai ini merupakan ibukota Kabupaten Raja Ampat. Dengan senyum khasnya, Erdi, salah seorang staf CI - menyambut kami di dermaga. "Selamat datang di Waiwo" ucapnya dengan ramah.

Dermaga di Waiwo tak memiliki anak tangga. Akibatnya, kami harus bersusah payah untuk mencapai bagian atasnya sambil memindahkan bawang bawaan dari kapal. Bersama Erdi, Pak Becky, Kepala Kelautan dan Perikanan Kab. Raja Ampat turut menyambut kedatangan kami.
Dengan ramah, Pak Becky menerangkan proses pendirian pusat penelitian ini. Ia mempersilakan kami untuk menempati tempat ini selama pelatihan. "Terima kasih banyak, Pak!"
Wah ternyata pusat penelitian itu keren euy. Bentuknya seperti cottage (padahal ini kan pusat penelitian ya) yang terbuat dari kayu. Ada empat bangunan besar, dan dua lagi masih dalam taraf pengerjaan. Di tiap bangunan terdapat kamar mandi dalam pada kamar-kamarnya. Ada pula kamar mandi luar yang dapat digunakan bersama. Sebuah kamar tidur dapat diisi oleh empat orang karena telah disiapkan ranjang susun.

Maka rombongan kami, saya, Amalia dan Megan, mendapat kebagian kasur tingkat. Jalan setapak penghubung antarbangunan dilapisi pasir putih, di hadapannya terdengar debusan ombak yang sahut menyahut. Makan malam disambut dengan ikan, setelah itu kami langsung mempersiapkan acara untuk esok hari. Peserta lain datang esok hari. Pesertanya beragam, mulai dari pemerintah, masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat.

Menyadarkan Diri dari Pagi Hari
Kicauan burung pagi membangunkan saya seolah mengingatkan waktunya untuk mengintip burung. Jam enam pagi, saya sudah siap kamera di tangan kiri dan buku panduan burung Papua di tangan kanan dan teropong pinjaman di leher, maklum saya tidak mempunyai teropong. Wah, pulau ajaib, banyak sekali burung berwarna warni seliweran, mulai dari nuri kepala hitam sampai julang Papua, terbang tanpa malu-malu seolah tidak peduli dengan kehadiran saya, mereka terbang sambil bersuara keras. Langsung saja saya bidik melalui teropong.

Sudah jam 10 pagi, mengintip burung saya hentikan karena acara sudah mulai. Acara mulai agak telat, maklum kapal cepat yang berangkat dari Sorong harus mampir di beberapa tempat untuk menjemput peserta dari pulau lain. Namun, pembukaan lancar juga, peserta cukup antusias.
Pelatihan ini mengajarkan kita untuk membuat program pendidikan lingkungan dalam merubah perilaku. Karena untuk merubah perilaku tidak semudah membalik telapak tangan, ada proses panjang dan adanya ekonomi alternatif yang bermain disana. Dan program yang dilakukan harus terintegrasi antara satu program dengan lainnya, tidak bisa berdiri sendiri (untuk lengkapnya dapat dilihat dalam boks).
Pelatihan ini mengajarkan kita untuk membuat program pendidikan lingkungan dalam merubah perilaku. KArena untuk merubah perilaku tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada proses panjang dan adanya ekonomi alternatif yang bermain di sana.

Disela-sela acara, jika bosan, kepala berasap dan otak berdarah istilahnya, maka kami pun melakukan yosfan. Tarian tradisonal Papua yang dilakukan dengan bernyanyi sambil memukul tifa (alat musik tradisional Papua yang berbentuk seperti gendang). Namun karena tidak ada tifa, maka kami menggunakan gallon air mineral (tak ada rotan akarpun jadi). Setelah segar, kamipun memulai lagi pelatihan. Acara berlangsung lancar, tak terasa tiga hari sudah kami di Waiwo. Acarapun selesai, diakhiri dengan pembagian sertifikat, sebagai tanda bahwa kami sudah mengikuti pelatihan ini.
Hari minggu datang, saatnya istirahat. Tak disia-siakan, kami sepakat untuk snorkeling (yahui ini yang ditunggu-tunggu). Saya sebenarnya sudah lupa cara snorkeling, dan agak takut kalau berada di tempat yang dalam. Namun kawan-kawan lain meyakinkan (atau malah menjerumuskan ya?). Dengan telaten Onal dan Valen mengajari saya. Rasanya sempat juga saya menelan air laut cukup banyak, glegek…wah asin banget. Setelah sedikit lancar, dengan pedenya mereka menarik saya ketempat yang lebih dalam. "Tenang Lis, ada dua lelaki di belakangmu" ujar Shinta, salah seorang staff lapangan CI berusaha meyakinkan saya. Tapi ternyata tidak begitu menyeramkan jika sudah berada di kedalaman, malah saya sangat menikmatinya. Mulailah melihat terumbu karang yang ajaib itu, wah, tak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Ikan kecil warna-warni berseliweran dengan cueknya di bawah saya, juga disela-sela terumbu karang. "Hampir semua di sini hard coral" ucap Vallen. Sambil berenang Vallen selalu menunjuk-nunjuk memberitahukan saya sesuatu, "itu teripang" ucap Vallen. Lantas Vallen mengambilnya dari sela-sela karang, "Mau pegang" ucapnya. "Ihh, licin" seru saya ketika memegang teripang warna coklat. Tiba-tiba, hup…Vallen mengambil sesuatu, dia melihat lobster yang sembunyi di balik karang, dengan sigapnya diambil lobster dan diperlihatkan ke saya, jujur sempat terbayang lobster yang disajikan di restoran seafood syruuup, namun akhirnya dikembalikan ke tempatnya karena nanti menganggu keutuhan populasi. Usai snorkeling, kami menikmati segarnya air kelapa hijau sambil menikmati keindahan pantai. Malamnya, sebagian dari kami berkunjung ke desa Saonek, cukup 10 menit menyebrang dari Waiwo. Desa ini satu-satunya yang punya sinyal hape (handphone). Kesempatan ini tak saya lewatkan untuk mengirim kabar ke Jakarta .

Keracunan Pinang
Acara pelatihan memang selesai namun dilanjutkan dengan acara membuat program pendidikan lingkungan untuk education boat di Raja Ampat dengan menggunakan metode pohon masalah tadi. Paling seru adalah bagian interview langsung ke kampung-kampung. Ada beberapa desa yang dituju seperti Sapokren, Yenbeser, Wawiai, Saonek dan lain-lain. Saya kebagian desa Sapokren bersama Shinta. Awalnya saya sudah berniat menginap, namun ketika wawancara tiba-tiba kepala pusing, ternyata saya keracunan pinang. Maklum ketika wawancara mulut saya komat kamit mengunyah pinang maskudnya untuk lebih mendekatkan diri dengan yang di wawancara, namun sepertinya teknik mengunyah saya salah dan tidak biasa juga. Akhirnya acara menginap di desa batal, saya memilih kembali ke penginapan daripada merepotkan rekan-rekan lainya.

Esoknya saya ke desa Yenbuba dan Arborek, desa terakhir bagus sekali. Ketika datang langsung saya terpesona, desanya bersih dan rapih. Bersama Mike, kami mewawancarai dua orang, satu pemuda dibawah 20 tahun dan seorang lagi di atas 30 tahun. Keduanya berprofesi sebagai nelayan. Pertanyaan yang kami berikan dijawab dengan cukup lancar. Hari-hari selanjutnya sangat melelahkan, sebab kami harus mengolah data hasil wawancara masyarakat. Pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran itu akhirnya selesai. Dan tibalah waktu untuk berkemas, meninggalkan negeri yang indah ini. Kami kembali ke tempat asal masing-masing untuk melanjutkan berbagai pekerjaan yang tertunda. Meski demikian, hati saya telah bergembira. Kedepan, kita berharap kelestarian terumbu karang.

17 July 2007

Fak-Fak : Kaimana, Menuju Kawasan Konservasi Laut ; Kerusakan di darat dengan illegal logging jangan sampai terjadi di laut

(Majalah Tropika Musim Panen (Edisi April-Juni Vol 11 No 2, 2007)
Kawasan laut Kabupaten Kaimana, Papua Barat memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat penting di dunia. Penelitian yang dilakukan oleh tim Conservation International tahun 2006 membuktikan hal ini (lihat TROPIKA Oktober-Desember Vol 10(4) 2006). Kabupaten ini memiliki ekosistem laut yang unik dengan spesies endemik seperti hiu berjalan (walking shark) serta tempat pemijahan beberapa jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis penting.

Selain itu, kawasan ini juga mempunyai pemandangan keindahan laut yang sangat menakjubkan. Misalnya keindahan landscape di Teluk Triton dan kawasan pantai yang lainnya.
Oleh karena itu, perlu dipikirkan untuk melindungi kawasan ini sebagai "tabungan" stok perikanan di masa yang akan datang. Oleh sebab itu, tanggal 30 April 2007, CI bekerjasama dengan Direktorat Kawasan Taman Nasional Laut, Direktorat Jenderal Kawasan Pesisir dan Pulau Pulau Keci (KP3K), Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), mengadakan sebuah lokakarya bertempat di Kaimana.
Pertemuan tersebut mengusung tema "Pembangunan Kawasan Konservasi Laut di Kabupaten Kaimana, Papua Barat". Lokakarya ini dihadiri lebih kurang 100 orang peserta dari dinas-dinas terkait: Pemerintah Daerah Kaimana, serta masyarakat dari enam kampung yang berada di Teluk Triton yang diwakili oleh kepala desa, ketua adat, tokoh agama, tokoh pemuda dan tokoh perempuan. Enam perwakilan masyarakat kampung yang hadar antara lain dari Kampung Lobo, Maimai, Namatota, Kawaka, Lumira dan Kampung Futa.

Menurut Ketut Sarjana Putra, pertemuan ini juga membahas tentang rencana pembangunan Kawasan Konservasi Laut Daerah di kabupaten Kaimana. "Langkah ini memerlukan proses yang melibatkan semua pihak," kata Ketut. "Manfaatnya tidak akan segera dirasakan "keesokan" harinya begitu KKLD ditetapkan di kabupaten ini."

Lokakarya ini dibuka oleh Bupati Kaimana,Hasan Ahmad,MSi. Dalam sambutannya Bupati menyatakan pengelolaan sumberdaya alam, termasuk sumberdaya laut, di kabupaten ini harus memberikan manfaat bagi masyarakat setempat. Bupati menekankan agar kerusakan yang terjadi didaratan baik karena illegal logging maupun tambang, seharusnya menjadi pelajaran agar tidak terulang di laut.
Direktur KTNL Yaya Mulyana, memaparkan pula tentang kebijakan departemennya dalam pengembangan Kawasan Konservasil Laut Daerah di Indonesia. Disebutkan adanya UU No. 31 tahun 2004 yang memberi ruang kepada daerah untuk mengelola sebagian wilayah lautnya menjadi kawasan konservasi. Disamping itu, kata dia "Pada tahun 2010 Indonesia telah berkomitmen untuk membangun KKL menjadi 10 juta ha," Maka dengan komitmen ini Yaya Mulyana mengharapkan Kabupaten Kaimana dapat berkontribusi menyumbangkan sebagian wilayah lautnya menjadi Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD).

Lokakarnya ini mengeluarkan hasil, diantaranya menyebutkan bahwa gagasan pembentukan KKLD di Kabupaten Kaimana penting untuk dipertimbangkan dalam rangka pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan. Selanjutnya gagasan ini perlu disosialisasikan di kampung-kampung termasuk masyarakat lokal, dinas teknis terkait, dan para pihak lainnya agar gagasan ini dapat dipahami dengan baik. Selain itu lokakarnya juga merekomendasika tentang perlunya kerjasama yang baik dan pembagian peran yang jelas antara semua pihak, baik dari Pemda Kaimana, DKP, masyarakat adat, CI dan pihak-pihak terkait lainnya dalam pengembangan KKLD Kabupaten Kaimana.//Laporan Khazalie Harahap, Kaimana.

Teminabuan : Alirkan Air Bersih Terbentur Geografis

(www.radarsorong.com, Senin 16 Juli 2007)
TEMINABUAN– Perencanaan pengaliran air bersih yang akan dilakukan di Distrik Seremuk Kabupaten Sorong Selatan sepertinya akan mengalami kendala. Hal tersebut seperti yang disampaikan Kepala PDAM Sorsel, Asep Jarollo kepada Radar Sorong baru-baru ini.
Menurutnya, penglairan air bersih di Distrik Seremuk untuk diterima oleh masyarakat sangat sulit mengingat kondisi geografis di distrik tersebut sangat sulit untuk bisa dilakukan penglairan air bersih sampai kepada masyarakat.

"Untuk penglairan air bersih di Distrik Seremuk terkendala dengan letak geografis. Selain itu juga jarak antara satu kampung dengan kampung lain sangat jauh sehingga sulit untuk dilakukan pengaliran di distrik itu,"jelasnya.
Dikatakan, pengaliran air bersih baru bisa dilakukan apabila letak yang ada di distrik tersebut haruslah tinggi sehingga pengaliran dapat dilakukan dengan cara gravitasi dari daerah yang tinggi untuk dialirkan ke beberapa kampung yang rendah. "Letak antara kampung yang berjauhan sangat mempengaruhi dan juga letak ketinggian dari Distrik Seremuk sangat sulit, bisa dilakukan dengan mesin namun membutuhkan anggaran yang tidak sedikit,"tambahnya.(mus)

Teminabuan : 20 Pemilik Sensauw Dipanggil

(www.radarsorong.com, Senin 16 Juli 2007)
TEMINABUAN- Polsek Teminabuan mengumpulkan sekitar 20 pemilik sensauw yang selama ini melakukan aktivitas pengolahan kayu lokal. Tujuannya sebagai langkah maju membantu Pemkab Sorsel dalam menertibkan para pengusaha kayu lokal untuk segera mengurus ijin penebangan kayu yang pada prinsipnya adalah sebagai upaya mendongkrak PAD di bidang kehutanan. Karena pengusaha kayu dan masyarakat yang melakukan usaha kayu lokal selama ini diduga belum mengantongi ijin penebangan dari Dinas Kehutanan. Sayangnya usaha penertiban itu kandas alias tidak membuahkan hasil dan puluhan pemliki sensauw terpaksa disuruh pulang. Karena polisi tidak memiliki dasar hukum yang kuat atas penertiban tersebut. Dasar hukum yang dimaksud yakni aturan yang jelas terhadap ijin penebangan kayu. Hal ini terungkap setelah polisi menginterview beberapa pemilik sensauw dan masyarakat yang sudah memenuhi panggilan. Dihadapan petugas mereka mau mengurus ijin penebangan dari Dinas Kehutanan namun sampai sekarang belum ada respon positif dari Dinas Kehutanan untuk mengeluarkan ijin penebangan kepada pemilik sensauw dan masyarakat selaku pemilik hak ulayat.

Kapolsek Teminabuan melalui Kanit Resintel Aipda Kadir Razak menegaskan para pemilik sensauw disuruh pulang karena polisi tidak memiliki dasar yang kuat. "Kita suruh mereka pulang karena belum ada aturan dari Dinas Kehutanan tentang ijin penebangan. Sementara baik pemilik sensauw maupun masyarakat mau mengurus ijin,"ujarnya kepada Radar Sorong kemarin.(mus)

Teminabuan : Kelapa Sawit Diminta Disosialisasikan

(www.radarsorong.com, Senin 16 Juli 2007)
TEMINABUAN– Penanaman kelapa sawit yang dilakukan oleh beberapa investor di Kabupaten Sorong Selatan untuk peningkatan kualitas SDA di kabupaten tersebut seperti yang akan dilakukan di Distrik Inanwatan. Namun dalam melakukan penanaman kelapa sawit tersebut harus perlu untuk dilakukan sosialisasi bagi masyarakat di distrik tersebut. Penegasan tersebut seperti yang disampaikan Kadistrik Inanwatan, Drs George Japsenang kepada Radar Sorong Sabtu lalu (14/7) di ruang kerjanya.
"Perusahaan yang akan melakukan usaha baik di sektor pertanian muapun di sektor lainnya haruslah terlebih dahulu dilakukan sosialisasi di distrik kami agar masarakat dapat mengetahui secara jelas tujuan dari usaha yang akan mereka lakukan,"terangnya.

Dikatakan, sosialisasi perlu dilakukan mengingat masyarakat di distrik tersebut pernah mengalami trauma atas perbuatan yang dilakukan oleh PT Jayanti Group yang tujuannya untuk kelapa sawit namun ternyata mengambil hasil hutan berupa kayu. "Yang jelas tergantung dari masyarakat kalau mereka tidak mau ya mau bilang apa, tapi saya yakin kalau dijelaskan dengan baik oleh para investor maka masyarakat pasti terima,"terangnya.(mus)

16 July 2007

Tips & Trik : Bijak Pilih Bentuk Obat

(Trubus Online)
Ingat kisah Ande-ande Lumut? Putra raja yang tampan itu meminang Kleting Kuning yang buruk rupa dan menolak 6 gadis lain nan cantik. Dalam dunia herbal, pilihan bentuk sediaan juga banyak: irisan kering, bubuk kering, tablet, kapsul keras, softcapsule, dan teh. Mana yang harus dipilih?

Untuk klaim penyakit yang sama pun, tersedia herbal dalam berbagai bentuk sediaan. Sarang semut, misalnya, tersedia dalam bentuk bubuk kering, kapsul bubuk kering, dan kapsul ekstrak air. Itu membuat konsumen bingung ketika hendak memilih bentuk sediaan yang paling cocok untuk penyakitnya. Sediaan herbal yang dikemas modern lebih menarik konsumen karena praktis dan lebih higienis. Namun, konsumen mesti teliti sebelum membeli. Apakah sediaan modern itu mengikuti cara tradisional dalam penyiapannya?

Cara penyiapan yang berbeda dengan cara tradisional, menghasilkan kualitas produk berbeda dan belum teruji khasiatnya. Kecuali untuk kategori herbal terstandar dan fitofarmaka. Contoh jamu dari hutan tropis Amazon bernama muira puama Ptychopetalum olacoides. Di Amerika Serikat muira puama sangat populer sebagai afrodisiak untuk kaum Adam. Secara tradisional tanaman itu lama digunakan oleh penduduk asli Brazil untuk meningkatkan fungsi seksual pria.

Senyawa-senyawa kimia yang bertanggung jawab terhadap fungsi afrodisiak itu larut dalam alkohol. Oleh karena itu produk yang efektif berupa kapsul berisi ekstrak alkohol, bukan ekstrak air atau bubuk. Padahal di pasaran tersedia berbagai bentuk sediaan muira puama seperti tablet, kapsul berisi bubuk, kapsul berisi ekstrak air, dan kapsul berisi ekstrak alkohol. Salah pilih berarti kekecewaan konsumen. Celakanya mereka cenderung menyimpulkan, muira puama tidak efektif sebagai afrodisiak.

Label
Secara tradisional masyarakat mengolah sarang semut dengan merebus dalam air mendidih. Setelah dingin, mereka menyaring sebelum mengkonsumsinya. Bahan baku sarang semut berupa potongan-potongan segar atau kering, bisa pula bubuk kering. Jadi senyawa-senyawa kimia dalam sarang semut yang memiliki aktivitas farmakologi bisa dipastikan adalah senyawa-senyawa yang larut dalam air.
Oleh karena itu, bila membuat sediaan lain seperti kapsul, harus dari ekstrak air, bukan ekstrak alkohol atau bubuk kering (tanpa ekstraksi). Ekstrak air dapat dibuat dalam bentuk ekstrak kering atau campuran ekstrak kental dengan bahan pengering, keduanya diizinkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Saat ini di pasaran terdapat kapsul bubuk kering sarang semut tanpa melalui proses ekstraksi. Selain melanggar aturan BPOM, juga membahayakan konsumen lantaran senyawa aktif dalam kapsul tak serta-merta terlepas di lambung.

Untuk mengenalinya, lihat izin BPOM di label kemasan. Kalau tanpa nomor registrasi (POM TR) atau hanya memiliki izin P-IRT (industri rumah tangga), perlu diragukan khasiat dan keamanannya. Secara sederhana isi kapsul juga bisa diuji kelarutannya dalam air suhu ruang. Bila sebagian isi kapsul segera larut dalam air, itu indikasi ekstrak air. Tentu saja ada bagian yang tidak larut yang merupakan bahan pengisi kapsul seperti amilum atau sejenisnya. Isi kapsul yang berupa bubuk tanpa ekstraksi akan sangat sulit larut dalam air dingin.

Bubuk vs kapsul
Kapsul sarang semut mengandung senyawa aktif yang relatif sama dengan dekoktum (air rebusan) bubuk sarang semut. Artinya pada masing-masing dosis anjuran, keduanya memiliki keamanan dan khasiat yang relatif sama. Perbedaannya? Dari segi harga, bubuk lebih ekonomis karena diperlukan investasi lebih besar untuk memproduksi kapsul. Dari sisi penyerapan, bubuk lebih cepat karena perlu waktu ekstra untuk menghancurkan selongsong kapsul di dalam sistem pencernaan.

Sebaliknya, karena terlindungi oleh selongsong kapsul, beberapa senyawa aktif yang labil (mudah terurai) dapat terlindungi dari degradasi di dalam lambung. Kapsul lebih banyak dipilih oleh mereka yang tidak menyukai rasa dan aroma jamu-identik dengan pahit, amis, dan apak. Mereka yang sibuk, mobilitas tinggi, dan ingin meningkatkan vitalitas serta menjaga kebugaran juga memilih kapsul. Begitu pun konsumen yang pencernaan bermasalah, gangguan fungsi hati, dan ginjal.

Segelas dekoktum sarang semut atau 200 ml memiliki kandungan ekstrak air setara 2 kapsul ekstrak air sarang semut (2 x 500 mg). Mereka yang memiliki gangguan fungsi hati dan ginjal, tentu lebih baik mengkonsumsi kapsul ketimbang bubuk sehingga kerja hati dan ginjal tidak berat. Pilihan kapsul ketimbang bubuk sering pula karena alasan ketepatan dosis. Dosis secara tepat terukur, misalnya bila minum 2 kapsul masing-masing 500 mg secara pasti kita mendapatkan khasiat yang setara dengan 1.000 mg ekstrak.

Bandingkan dengan segelas dekoktum bubuk yang takarannya tidak akurat (hanya dengan sendok makan). Selain itu, perbandingan bubuk dan air serta lama perebusan juga hanya kira-kira. Akibatnya kandungan senyawa aktif dalam ekstrak air, juga bisa berbeda-beda. Kapsul memiliki masa simpan relatif lama, minimal 3 tahun, sulit dipalsukan karena dalam pembuatannya diperlukan peralatan dan modal besar. Kelebihan kapsul lain adalah lebih higienis karena menggunakan peralatan modern dan lebih murni lantaran dalam ekstrak tidak terdapat bahan-bahan yang tidak larut dalam air, kecuali bahan pengisi yang sengaja ditambahkan.

Bubuk sarang semut memiliki keunggulan lain yang tidak dipunyai oleh kapsul: sebagai minuman kesehatan yang menyegarkan. Tentu setelah ditambahkan pemanis dan bahan lain untuk meningkatkan vitalitas dan menjaga kebugaran. Bagi kalangan tertentu seperti kaum lanjut usia, minum jamu identik rebusan simplisia yang pahit. Mereka menganggap minum kapsul kurang mantap dan 'menyalahi' ritual tradisional. Sugesti seperti itu jamak kita temukan di masyarakat Indonesia. Akibatnya bila mereka dipaksa minum kapsul, kondisi kesehatan tak membaik. Jadi jangan dipaksa mereka untuk menjadi lebih modern dengan minum kapsul. Percaya atau tidak, sugesti memiliki peran penting dalam kesembuhan suatu penyakit seseorang.

Untuk penyakit-penyakit tertentu, konsumen sebaiknya menggunakan kedua sediaan bubuk dan kapsul secara bersamaan. Misalnya untuk pengobatan rematik, kapsul diminum untuk meredakan rasa nyeri dan bubuk untuk mengompres bagian luar yang bengkak, meredakan nyeri, dan pembengkakan. Untuk pengobatan tumor atau kanker dengan benjolan di luar, gunakan kapsul untuk pengobatan dari dalam. Sementara bubuk untuk kompres (meredakan rasa nyeri dan pengobatan dari luar). (Dr Ir M. Ahkam Subroto, M.App. Sc, Peneliti Utama, LIPI Cibinong Science Center)